Off Bid Global: Matikan Aplikasi, Nyalakan Perlawanan. Driver Online Bersatu Lawan Kapitalisme Digital !
Di tengah derasnya arus transformasi digital yang dipromosikan sebagai simbol kemajuan peradaban modern, jutaan pengemudi dan kurir online justru hidup dalam kondisi yang semakin rapuh dan tidak pasti. Pemerintah, perusahaan teknologi, dan para pemilik modal terus memamerkan pertumbuhan ekonomi digital sebagai kebanggaan nasional, sementara di balik layar aplikasi yang tampak canggih itu terdapat jutaan pekerja yang diperas tenaganya setiap hari tanpa jaminan kehidupan yang layak. Ekonomi digital dibangun di atas kerja keras driver dan kurir, tetapi keuntungan raksasa justru menumpuk di tangan segelintir korporasi platform global.
Serikat Pengemudi Transportasi
Indonesia (SEPETA) menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan aksi global Off Bid, yakni penghentian
sementara layanan aplikasi oleh para pengemudi transportasi online di berbagai
negara sebagai bentuk perlawanan kolektif terhadap sistem kerja platform
digital yang eksploitatif dan tidak manusiawi. Gerakan ini bukan sekadar aksi
simbolik, melainkan bentuk kesadaran politik kaum pekerja platform bahwa mereka
sedang menghadapi sistem penindasan baru yang dibungkus dengan bahasa inovasi
dan teknologi.
Selama bertahun-tahun, perusahaan
platform digital berhasil membangun citra seolah-olah mereka adalah pelopor
kemajuan, pencipta lapangan kerja, dan penyelamat ekonomi rakyat kecil. Namun
kenyataan di lapangan memperlihatkan hal yang berbeda. Para driver online
dipaksa bekerja tanpa kepastian pendapatan, tanpa perlindungan sosial yang
memadai, dan tanpa hak dasar sebagai pekerja. Mereka bekerja di bawah tekanan
algoritma yang tidak transparan, menghadapi ancaman suspend sepihak, perubahan
tarif yang ditentukan secara sepihak, serta kompetisi yang sengaja diciptakan
perusahaan agar sesama driver saling berebut order demi bertahan hidup.
Di berbagai negara, mulai dari
Indonesia, Filipina, Thailand, India, Brasil, hingga negara-negara Eropa dan
Amerika Latin, situasi para pekerja platform digital pada dasarnya memiliki
pola yang sama. Perusahaan platform terus memperluas pasar dan memperbesar
keuntungan, sementara driver dan kurir justru semakin terjebak dalam lingkaran
kerja tanpa kepastian. Teknologi yang seharusnya memudahkan kehidupan manusia
justru digunakan sebagai alat kontrol dan penghisapan tenaga kerja secara
modern. Algoritma aplikasi kini menjadi mandor baru yang mengatur hidup para
driver: menentukan order, memotong pendapatan, mengawasi performa, bahkan
menghukum pekerja tanpa proses yang adil.
Istilah “mitra” yang selama ini
dipropagandakan perusahaan hanyalah topeng untuk menutupi hubungan kerja yang
eksploitatif. Driver disebut mitra agar perusahaan dapat menghindar dari
kewajiban memberikan upah layak, jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja,
cuti, pesangon, hingga hak berserikat. Namun dalam praktiknya, para driver sama
sekali tidak memiliki kebebasan sebagai “mitra”. Mereka tidak memiliki kuasa
menentukan tarif, tidak bisa menegosiasikan sistem kerja, dan sepenuhnya
dikendalikan oleh kebijakan sepihak perusahaan. Setiap hari driver dipaksa
tunduk pada sistem yang bahkan tidak mereka pahami, sebab algoritma perusahaan
bekerja secara tertutup dan tidak pernah dapat diawasi secara demokratis.
Inilah wajah baru kapitalisme
digital: eksploitasi yang tidak lagi
menggunakan cambuk dan pabrik-pabrik besar, melainkan aplikasi di telepon
genggam. Perusahaan platform memanfaatkan perkembangan teknologi untuk
mengurangi tanggung jawab terhadap pekerja, tetapi tetap mempertahankan kontrol
penuh atas tenaga kerja. Para driver dipaksa menyediakan kendaraan sendiri,
membeli bensin sendiri, menanggung biaya servis sendiri, membeli paket data
sendiri, bahkan mempertaruhkan nyawa sendiri di jalanan, sementara perusahaan
hanya menyediakan aplikasi dan mengambil keuntungan dari setiap transaksi.
Di kawasan Asia Tenggara, situasi
ini semakin parah akibat dominasi korporasi super app seperti Grab, Gojek, dan
Shopee. Perusahaan-perusahaan ini telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi
raksasa yang menguasai berbagai sektor kehidupan digital masyarakat. Mereka
tidak hanya mengendalikan layanan transportasi online, tetapi juga layanan
pesan antar makanan, logistik, pembayaran digital, hingga data perilaku jutaan
pengguna. Monopoli digital ini menjadikan perusahaan platform memiliki
kekuasaan luar biasa besar terhadap kehidupan para driver dan konsumen.
Penguasaan data digital oleh
korporasi platform merupakan ancaman serius terhadap kedaulatan ekonomi rakyat.
Data yang dihasilkan dari kerja dan aktivitas masyarakat dihisap menjadi sumber
keuntungan perusahaan global, sementara para pekerja yang menghasilkan nilai
ekonomi tersebut tetap hidup dalam kemiskinan. Dalam sistem seperti ini,
teknologi tidak lagi menjadi alat pembebasan manusia, melainkan instrumen
penguasaan dan eksploitasi yang semakin canggih.
Di Indonesia sendiri, sekitar tujuh
juta pekerja transportasi online—ojek online, taksi online, dan kurir—masih
hidup dalam kondisi kerja yang penuh ketidakpastian. Banyak driver harus
bekerja sejak dini hari hingga larut malam demi mendapatkan penghasilan yang
bahkan sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Tidak
sedikit driver yang terpaksa tidur di pinggir jalan, di masjid, di warung kopi,
atau di pangkalan-pangkalan kecil karena kelelahan setelah bekerja belasan jam.
Mereka terus dipaksa online demi mengejar bonus dan insentif yang nilainya
semakin hari semakin kecil.
Sementara itu, risiko kerja yang
mereka hadapi sangat besar. Kecelakaan lalu lintas, perampasan kendaraan,
kekerasan di jalan, hingga kematian menjadi ancaman sehari-hari bagi driver
online. Belum lagi driver perempuan yang bahkan kerap membawa anak mereka untuk
mencari orderan. Kondisi driver perempuan semakin diperparah dengan resiko
pembatalan orderan karena dia perempuan bahkan mereka kerap menjadi obejek
pelecehan dari pelanggannya.
Dengan resiko kerja yang begitu
banyak dan variative tersebut, tapi perlindungan sosial yang diberikan negara
maupun perusahaan masih sangat minim. Contohnya, dari jutaan driver dan kurir
online aktif di Indonesia, hanya sebagian kecil yang terdaftar dalam program
BPJS Ketenagakerjaan. Mayoritas pekerja platform dibiarkan menghadapi risiko
kerja sendirian tanpa perlindungan memadai.
Kondisi ini menunjukkan bahwa negara
telah gagal melindungi rakyat pekerja di tengah perkembangan ekonomi digital.
Pemerintah lebih sering berdiri di belakang kepentingan investasi dan
perusahaan teknologi dibandingkan membela hak-hak dasar para pekerja platform.
Regulasi yang ada justru memberi ruang luas bagi perusahaan untuk terus
menjalankan praktik eksploitasi atas nama inovasi dan fleksibilitas kerja.
Akibatnya, jutaan driver online dipaksa menerima kondisi kerja yang tidak
manusiawi sebagai sesuatu yang dianggap normal.
Karena itu, perjuangan driver online
tidak bisa lagi dibatasi hanya pada tuntutan tarif atau bonus semata. Yang
sedang dipertarungkan hari ini adalah masa depan kerja manusia di era digital.
Jika eksploitasi platform digital terus dibiarkan, maka model kerja tanpa
perlindungan akan semakin meluas ke berbagai sektor kehidupan. Hari ini yang
dihancurkan adalah hak driver online, besok giliran sektor kerja lain yang akan
dipaksa tunduk pada logika kapitalisme digital.
SEPETA memandang bahwa satu-satunya
jalan untuk menghadapi kekuatan besar korporasi platform adalah melalui
persatuan dan solidaritas internasional kaum pekerja. Korporasi platform
bergerak lintas negara, menghisap keuntungan dari jutaan pekerja di berbagai
belahan dunia, maka perlawanan terhadapnya juga harus dibangun secara global.
Driver online di Indonesia memiliki kepentingan yang sama dengan driver di
Filipina, India, Brasil, Kenya, maupun Eropa: sama-sama menuntut kehidupan yang
layak dan pengakuan sebagai pekerja.
Oleh sebab itu, SEPETA bersama
serikat dan komunitas driver online di berbagai negeri membangun kekuatan
perjuangan internasional untuk mendesak pengakuan driver online sebagai pekerja
platform digital yang memiliki hak atas jaminan sosial, pendapatan layak,
perlindungan kerja, hak berserikat, serta hak berunding secara kolektif.
Sebagai bentuk protes global
terhadap ketidakadilan sistem platform digital dan sebagai desakan kepada International
Labour Organization (ILO) agar segera menetapkan status driver online sebagai
pekerja dalam sidang tahunan Juni 2026 mendatang, SEPETA menyerukan aksi Off Bid Massal Global secara
serentak pada:
Jumat,
15 Mei 2026
Aksi ini bukan sekadar penghentian
layanan aplikasi. Aksi ini adalah peringatan bagi korporasi digital bahwa roda
ekonomi platform tidak akan pernah bergerak tanpa tenaga jutaan driver dan
kurir. Selama ini perusahaan berusaha membuat para pekerja merasa sendirian,
terpecah, dan saling bersaing. Namun melalui aksi global ini, para driver
menunjukkan bahwa mereka memiliki kekuatan kolektif yang mampu mengguncang
sistem.
Ketika driver berhenti menerima
order secara serentak, dunia akan melihat siapa sesungguhnya yang selama ini
menopang ekonomi digital. Bukan para pemilik saham. Bukan para direktur
perusahaan. Melainkan jutaan pekerja yang setiap hari mengorbankan tenaga,
waktu, kesehatan, dan bahkan nyawa mereka di jalanan.
Gerakan Off Bid Global adalah awal dari perlawanan yang lebih besar
terhadap eksploitasi digital. Sebuah seruan bahwa teknologi seharusnya
digunakan untuk menyejahterakan manusia, bukan memperkaya segelintir korporasi
dengan mengorbankan jutaan pekerja. Perlawanan ini adalah perjuangan untuk
merebut kembali martabat kerja manusia di tengah sistem ekonomi digital yang
semakin rakus.
Solidaritas internasional driver
online bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan sejarah. Sebab di tengah
kapitalisme digital yang terus memperluas penghisapan, hanya persatuan kaum
pekerja yang mampu melawan dan memenangkan masa depan yang lebih adil.




Setuju dukung off bid
BalasHapusAplikator makin menindas kita rakyat Indonesia harus melawan
BalasHapus