KTT ASEAN 2026: Asia Tenggara dalam Kepungan Perang dan Hegemoni Imperialisme Amerika Serikat
31 Juli 1961, menteri luar negeri Malaysia, Thailand, dan Filipina, bertemu di Bangkok dan membentuk Association of Southeast Asia (ASA). Meskipun menyatakan diri sebagai asosiasi non-politis dan berideologi netral, ketiganya adalah sekutu utama kekuatan Imperialisme Inggris dan AS di Asia Tenggara. ASA adalah usaha untuk menggeser konsolidasi politik nonblok (dan anti-imperialis) Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung, yang diinisiasi oleh pemerintahan nasionalis Sukarno. Akhirnya, pada 8 Agustus 1967, dengan tambahan Indonesia di bawah rezim fasis Suharto serta Singapura, ASA berubah menjadi Association of Southeast Asian Nations (ASEAN); masih bersemangatkan kepentingan blok imperialisme barat, membendung pengaruh Uni Soviet dan Tiongkok ke Asia Tenggara.
Kepentingan imperialisme AS amat tercermin dalam ASEAN.
Tidak pernah sekalipun AS memalingkan perhatiannya untuk menjaga hegemoni
politik dan dominasi ekonominya pada setiap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
ASEAN. 47 kali KTT ASEAN sejak 1967, selalu diasuh mesra oleh AS dan
negara-negara sekutunya seperti Kanada, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan
negara-negara Eropa lain. ASEAN sendiri memiliki forum pertemuan khusus dengan
AS bernama US-ASEAN Summit yang telah berlangsung 13 kali.
Semua negara anggota ASEAN, sudah lama menjadi sasaran
empuk ekspansi pasar korporasi transnasional dan multinasional (TNC dan MNC)
Amerika Serikat, bahkan jadi korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan AS
secara langsung maupun tidak langsung. Akibat dominasi ekonomi tersebut, tentu
semua negara anggota ASEAN terkerangkeng dalam hegemoni politik AS, walau terus
diombang-ambing pendekatan perdagangan dengan Tiongkok.
Apalagi, saat ini AS sedang berada diujung tanduk.
Deindustrialisasi yang dialami AS, beban biaya perang yang makin menumpuk,
serta perang dagang yang tidak memberikan titik terang, membuatnya makin
terdesak. Hutang nasional AS telah mencapai angka 37 triliun USD (sekitar
Rp590.000 triliun), dan bunganya mencapai 794 miliar USD pada 2025. Perang Iran
telah berlangsung lebih dari 60 hari, dan telah menghabiskan anggaran AS
sebesar 25 Miliar USD (bahkan 100 miliar USD menurut pihak Iran), dan
memperburuk ekonomi dalam negeri AS. Di sisi lain, nilai perdagangan Tiongkok
dan ASEAN selama ini juga bernilai sangat besar hingga 1 Triliun USD pada 2025.
Maka, Gedung Putih mengeluarkan dokumen National Security
Strategy (NSS); menegaskan cita-cita si Fasis Donald Trump untuk mengalahkan
Tiongkok dan mempertahankan kedudukan AS sebagai kekuatan tunggal imperialisme
– untuk Make America Great Again. Selain mengukuhkan doktrin Monroe di wilayah
Amerika Latin, ia juga secara khusus mendikte agar Asia-Pasifik “menghentikan dan membalikkan kerusakan […]
terhadap perekonomian Amerika”. Hal ini merujuk pada ekspan dagang Tiongkok
yang bersemangatkan multipolarisme, berhadapan secara langsung dengan ambisi
dominasi tunggal AS, sehingga menyaingi ekonomi AS secara signifikan.
AS juga berkepentingan agar negara-negara Asia-Pasifik
terus memusuhi dan mengisolasi Tiongkok dengan segala cara. NSS tegas
menyatakan bahwa AS akan “membangun,
memposisikan, dan memperkuat pertahanan di sepanjang Gugus Pulau Pertama (First
Island Chain)”. First Island Chain adalah konsep geostrategi AS untuk
menguasai akses laut, yang mencakup rangkaian kepulauan utama yang membentang
dari Asia Timur dari kepulauan Kuril (Jepang) hingga Kalimantan. Maka, NSS juga
menuntut agar negara-negara di First Island Chain agar memberikan “akses yang lebih besar kepada militer AS ke
pelabuhan dan fasilitas lainnya”.
Dari situlah militerisasi AS semakin masif dilakukan. AS
semakin sering melakukan latihan perang bersama negara-negara di Asia-Pasifik
seperti dengan Jepang (yang kini berhasil didorong untuk memiliterisasi kembali
negerinya lewat naiknya pemerintahan sayap kanan Sanae Takaichi), Korea
(melalui Freedom Shield), Filipina (melalui Balikatan Exercise), Malaysia
(melalui Keris Strike maupun event perdagangan industri senjata militer) hingga
Indonesia (melalui Super Garuda Shield).
Kini, sebagai rezim boneka imperialis di negeri
setengah-jajahan, Prabowo-Gibran melalui Kemenhan telah memperbaharui kerjasama
militer dengan AS melalui Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) sambil
menyediakan pulau Morotai sebagai pusat latihan militer negara-negara sekutu AS
(seperti Jepang, dengan Defence Cooperation Arrangement/DCA Mei) beserta wacana
penggunaan secara fleksibel wilayah udara RI bagi angkatan udara AS (blanket
overflight). Ini ditambah dengan agenda pembahasan “stabilitas regional Laut Cina Selatan” dalam KTT ASEAN, yang pada
intinya adalah memastikan agar Asia Tenggara secara khusus dan Asia-Pasifik
secara umum untuk mendukung kebijakan luar negeri AS.
Sementara itu, rakyat ASEAN telah merugi akibat krisis
imperialisme ini. Penutupan selat Hormuz akibat perang AS-Zionis dengan Iran
berakibat pada hilangnya 12 juta barel pasokan minyak perhari atau 11,5% dari
permintaan global, begitu juga dengan sekitar 20% produksi gas alam dari Qatar.
Akibatnya, Filipina mendeklarasikan darurat energi dalam negeri. Malaysia dan Indonesia
memotong subsidi bahan bakar. Selain itu, negara-negara ASEAN juga diancam
tarif impor resiprokal yang dikenakan AS, akibat masifnya industri manufaktur
Tiongkok di ASEAN. Indonesia sendiri dengan sukarela menerima tarif 19% dengan
kewajiban membeli komoditas AS sebesar tak kurang dari USD19,8 miliar (sekitar
Rp341 Triliun). Selain itu, industri milik Tiongkok, mengakali situasi krisis
ini dengan melakukan PHK dan memindahkan pabrik-pabriknya ke wilayah dengan
upah yang lebih rendah (seperti dari Jawa Barat dan Banten ke Jawa Tengah),
selain memindahkan pabrik-pabriknya ke negaranegara ASEAN yang mendapat tarif
lebih ringan dibanding negerinya sendiri.
Oleh karena itu, menjadi tanggungjawab bagi rakyat Asia
Tenggara untuk bangkit dan melawan perang imperialis, yang telah menjerumuskan
dunia pada krisis yang tak berkesudahan. AS hanya akan menggunakan ASEAN
sebagai pangkalan militer dan arena provokasi perang, selain sebagai sumber
penghisapan bahan mentah, tenaga kerja murah, wilayah pasar, dan sasaran pelimpahan
beban krisis pada negeri-negeri terbelakang. AS akan melakukan apapun untuk
mempertahankan posisinya sebagai imperialisme nomor satu di dunia, dengan
perang agresi, provokasi militer, dominasi ekonomi dan hegemoni politik – yang
artinya, AS memusuhi dan memerangi seluruh umat manusia.
Dalam momentum KTT ASEAN 2026 di Cebu-Filipina ini,
Persatuan Rakyat Indonesia AntiImperialis (PERISAI) menyerukan agar rakyat
Indonesia bersatu bersama rakyat Asia Tenggara, untuk memblejeti dan menentang
kebijakan pro-AS dari pemerintah dalam negeri, serta memaksa mereka untuk
menghentikan kerjasama tidak adil dengan AS yang beresiko memicu perang lebih
dalam lagi. Dan, Hanya dengan melawan perang agresi imperialis AS, menentang
dominasi dan hegemoni AS, rakyat Asia Tenggara dapat mendapatkan kedaulatan
sejatinya.




Posting Komentar untuk "KTT ASEAN 2026: Asia Tenggara dalam Kepungan Perang dan Hegemoni Imperialisme Amerika Serikat"