ME(i)LAWAN 2026 (BAGIAN II): BANGKIT BERSAMA RAKYAT, REBUT UPAH, TANAH DAN KERJA!
Indonesia: Negeri SJSF di bawah Rezim Fasis Boneka Prabowo - Gibran
Negeri setengah jajahan dan setengah
feodal (SJSF), yang tak punya modal bersaing secara internasional akibat
dominasi asing, yang tak punya kemajuan industri akibat luasnya monopoli tanah
feodal di pedesaan, pasti hanya bisa membebek pada situasi kepada para majikan
Imperialis yang paling menguntungkan. Oleh karenanya, sebagai negeri SJSF,
Indonesia pasti terdampak sangat berat oleh krisis ekonomi dunia saat ini.
Ini dibuktikan oleh situasi hari
ini, ketika Imperialisme AS sedang menuntut percepatan penarikan profit dari
negara-negara terbelakang. Bukan hanya secara ekonomi, AS kini juga sedang
membutuhkan dukungan politik untuk semakin mengukuhkan hegemoni dan
melegitimasi dominasinya. Negara-negara jajahan dan setengah jajahan hanya
mampu sendiko dawuh; menuruti sepenuhnya keinginan Imperialis AS sambil
berusaha tidak melepaskan pijakan kakinya ke rival imperialis AS, yaitu
Tiongkok dan Rusia.
Inilah alasan Prabowo menghabiskan
lebih dari 100 hari sejak pelantikannya pada Oktober 2024, untuk bersafari ke
lebih dari 28 negara, yang menghambur-haburkan anggaran negara karena ongkos
keberangkatan setiap kalinya memakan tak kurang dari Rp20 miliar (sehingga
hingga bulan ini menghabiskan tak kurang dari Rp980 miliar). Di awal masa
jabatannya, melanjutkan kedekatan Jokowi dengan Tiongkok, Prabowo-Gibran
menyambangi KTT BRICS, sowan ke Tiongkok dan Rusia. Namun, ketika imperialisme
AS yang dipimpin si fasis Donald Trump semakin vulgar, ia langsung merapat ke
AS dan sekutunya (Jepang, Korea, Prancis, dsb). Ia sukarela menyepakati tarif
impor resiprokal 19% (Agreement on Reciprocal Tariff) dengan kewajiban membeli
komoditas AS sebesar tak kurang dari USD19,8 miliar (sekitar Rp341 Triliun); Ia
bersedia bergabung ke Board of Peace (BoP) buatan Trump untuk mengirim TNI
melucuti senjata rakyat Gaza; Melalui Kementerian Pertahanan yang dikirim
langsung ke Pentagon, ia juga memperbaharui kerjasama militer dengan AS melalui
Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) sambil menyediakan pulau Morotai
sebagai pusat latihan militer negara-negara sekutu AS beserta wacana penggunaan
secara fleksibel wilayah udara RI bagi Angkatan Udara AS (blanket overflight).
Selain itu, rezim Prabowo-Gibran
juga mempertinggi derajat penghisapan dan penindasannya pada rakyat demi
memenuhi tagihan tuannya sang imperialis. Melalui IMF dan World Bank, AS
sendiri telah sejak lama memerintahkan Indonesia agar menaikkan pajak dan
memangkas subsidi agar bisa segera memulangkan (repatriasi) kapital yang
ditanam AS di Indonesia. Titah AS itu dijalankan rezim boneka di Indonesia
dengan menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) juga Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
(MBLB), yang dilegitimasi oleh berbagai kebijakan seperti UU Harmonisasi
Peraturan Perpajakan (HPP) nomor 7/2021 serta UU Hubungan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD) nomor 1/2022. Semua kebijakan
ini telah dikeluarkan oleh rezim Jokowi dan direalisasikan oleh pewarisnya,
Prabowo-Gibran, agar pemerintah pusat dapat melepas tanggungjawab atas
pembiayaan ke daerah.
Tepat setelah Prabowo-Gibran
dilantik, PPN naik ke 12% (bahkan IMF merekomendasikan agar PPN terus naik
hingga 15%); namun akibat protes rakyat, kenaikan itu dibatalkan. PBB di
berbagai wilayah juga meningkat drastis: Pati (250%), Cirebon (1000%), Semarang
(400%), Jombang (400%), Bone (300%), dll. Opsen pajak dengan berbagai jenis
ditambah skema “pajak progresif”, penghapusan dana bagi hasil/DBH dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah sambil pemerintah pusat memusatkan
pengelolaan investasi di daerah, juga diberlakukan.
Dari situlah penerimaan pajak
dilaporkan tumbuh 20,7% dari tahun sebelumnya menjadi Rp. 394,8 Triliun – bukan
dari peningkatan daya beli rakyat, tapi dari peningkatan derajat penghisapan
oleh rezim Prabowo-Gibran. Naasnya, semua itu hanya bisa membayar bunga utang
luar negeri saja, belum utang pokoknya yang pada 2025 tak kurang dari Rp9000
Triliun (dan terus bertambah).
Di sisi lain, akibat perang
imperialis, kondisi makro ekonomi Indonesia semakin ringkih dan merosot. Nilai
tukar mata uang Rupiah mengalami kejatuhan paling dalam terhadap US Dollar
karena telah tembus Rp17.300/USD, atau nilai tukar terburuk sepanjang sejarah
modern sejak berdirinya Republik Indonesia. Seiring kenaikan harga minyak
dunia, kini telah melewati ketentuan indikator resmi negara yang dipatok di
angka US$70/barel (Indonesian Crude Price).
Asumsi ini menjadi acuan utama dalam
menentukan subsidi BBM dan subsidi energi dalam APBN 2026. Sementara harga
minyak mentah dunia (crude oil) telah tembus lebih dari US$100/barel. Artinya,
harga minyak sudah jauh melewati asumsi di APBN 2026, berdasarkan analisis
sensitivitas, setiap kenaikan harga minyak rata-rata US$ 1/barel berisiko
menambah defisit anggaran Rp 6,8 triliun. Jadi kalau rata-rata harga minyak
bertahan di level saat ini hingga akhir tahun, maka defisit APBN 2026 terancam
membengkak Rp 74,8 triliun atau lebih.
Sementara harga bahan baku terutama
minyak, gas, dan komoditas petrokimia seperti plastik, melonjak naik. Harga
minyak dunia ini melonjak ke USD104,4/barel (per 24 April dan terus
fluktuatif). Di Indonesia sendiri, kini seluruh jenis bahan bakar dan gas
non-subsidi telah naik.
Industri manufaktur di Indonesia
merosot, pertumbuhan ekonomi juga melemah dibandingkan dengan ramalan rezim
sebelumnya. Dalam situasi krisis yang demikian, pengusaha tak memiliki pilihan
lain selain meningkatkan pula derajat penghisapan kepada kelas buruh, baik
dalam bentuk perpanjangan jam kerja, pemotongan upah, PHK, dan pemindahan
pabrik ke daerah yang upahnya lebih rendah.
Hingga maret 2026, sudah ada 8.389
orang korban PHK, dengan jumlah terbanyak dari Jawa Barat (1.721 orang) dan
Kalimantan Selatan (1.071 orang). Semua itu belum termasuk buruh tanpa kontrak
juga diluar perhitungan resmi JKP BPJS. Lebih dari 28 pabrik (terutama
perusahaan garmen, tekstil, dan sepatu/GTS) yang tutup, dan berencana untuk
pindah ke daerah dengan nilai upah lebih rendah seperti di Jawa Tengah.
Padahal, rata-rata upah tertinggi secara nasional ada di angka 5 juta (di Jawa
Barat dan Banten), masih jauh dari standar hidup layak pekerja dan keluarganya.
Semua itu dilakukan di tengah
kenaikan harga kebutuhan hidup rakyat akibat perang, serta ancaman penggusuran
ruang hidup yang tidak henti-hentinya dilakukan untuk memoles perkotaan agar
ramah investasi (baca: hutang) imperialis yang terus dikejar oleh Prabowo-Gibran.
Misalkan, melalui Perpres nomor
60/2020 juga Pergub DKI Jakarta nomor 33/2024 yang diselubungi istilah
“peningkatan kualitas pemukiman” dan “rencana tata ruang kawasan perkotaan”;
Pemerintah akan menggusur wilayah bantaran kali dan pemukiman kumuh. Semua ini
tidak bisa dilepaskan dari rencana Prabowo-Gibran untuk menyediakan kebutuhan
lahan infrastruktur tuan tanah besar komprador semacam Pondok Indah Group,
Lippo Mall Group, Pulau Intan Group; Agung Sedayu Grup, Podomoro Land, dll.
Belum lagi penyitaan tanah-tanah
“terlantar” (yang biasanya sudah ditempati rakyat perkotaan) untuk diserahkan
kepada Bank Tanah dan Danantara. Prabowo juga memanggil Kemendiktisaintek agar
melibatkan kampus-kampus (yang sejak awal sudah sangat liberal, privat, dan komersial,
sehingga anti ilmiah, anti demokrasi, dan anti rakyat) dalam perencanaan serta
riset penggusuran skala besar ini.
Situasi pedesaan tak kalah
mengkhawatirkan. Monopoli tanah dan hubungan produksi semi-feodal semakin
meluas; negara semakin memperkuat kedudukannya sebagai tuan tanah terbesar di
Indonesia.
Lewat Satgas Penertiban Kawasan
Hutan (PKH), rezim Prabowo-Gibran kembali menguasai lahan di sektor perkebunan
sawit seluas 5 juta hektar dan diserahkan ke PT Agrinas melalui Danantara,
menguasai kembali sektor pertambangan seluas 10.000 hektar (naik kurang lebih 1
juta hektar dari tahun sebelumnya), lalu menyerahkan kembali kawasan hutan
seluas 254.000 hektar di Kalimantan Barat, Aceh dan Jawa Barat ke Taman
Nasional.
Selain itu, Satgas PKH juga menyita
Rp.11 triliun dari denda administrasi, sitaan korupsi, termasuk di dalamnya
penerimaan pajak dan setoran dari PT Agrinas. Sementara itu, kaum tani yang
masih bisa berproduksi, masih saja terus menghadapi tingginya harga sarana
produksi pertanian dan rendahnya harga hasil pertanian. Permainan kartel pupuk,
tengkulak pertanian, termasuk para distributor komoditas pertanian baik negeri
maupun swasta terus saja ada.
Akibatnya, harga kebutuhan pokok
rakyat di pasar, dari mulai cabai, bawang, beras, minyak goreng, dsb., amat
melonjak tinggi walau bulan Ramadan telah berakhir.
Penghisapan negara atas rakyat
(bahkan atas pemerintah daerah oleh pemerintah pusat) ini konon demi
memperbaiki defisit anggaran negara yang kini mencapai Rp689 triliun. Tapi,
sebagaimana para bangsawan mengorupsi upah pekerja rodi di masa Daendles demi
gaya hidup mewahnya, kini rezim juga tidak menghentikan program non-esensial
demi berbagi jabatan dan anggaran.
Tahun 2026, MBG mengambil 29,5% dana
pendidikan, menyisakan hanya 11% alokasi APBN bagi pendidikan dasar, menengah,
dan tinggi (padahal konstitusi mengamanatkan alokasi 20% bagi pendidikan).
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memotong 58% dana desa, sambil memaksakan
penggusuran sekolah dan lahan-lahan desa demi pembangunannya.
Anggaran Kementerian Perlindungan
Perempuan dan Anak dipangkas, belum lagi sentralisasi anggaran ke pemerintah
pusat membuat banyak pemda merumahkan ASN PPPK-nya. Sementara itu, anggaran
TNI-POLRI tetap menjadi pos alokasi tertinggi, yang kini bertotal Rp250,21
Triliun – tentu untuk mengamankan semua program dan kebijakan politik-ekonomi
Prabowo-Gibran yang pasti memicu amarah rakyat.
Semua ini hanya menguntungkan
imperialisme, feodalisme, & kapitalis birokrat (terutama circle
Prabowo-Gibran dari segala partai dan geng, bagaimanapun kontradiksi internal
di antara mereka).
Akhirnya, tak ada yang tersisa bagi
kelas dan sektor rakyat Indonesia kecuali krisis dan krisis yang semakin
kronis. Kelas buruh di perkotaan menghadapi PHK dan berbagai macam skema
pencurian nilai lebih; kaum tani di pedesaan menghadapi perampasan dan monopoli
tanah, jatuhnya harga beli pertanian dan tingginya harga sarana produksi
pertanian; Pemuda tak memiliki lapangan pekerjaan, tak kurang dari 262 juta
generasi Z menganggur, 986 ribu anak putus sekolah, dari seluruh pemuda berusia
kuliah pun hanya 32% saja yang sanggup berkuliah; Kaum perempuan harus
menanggung beban ganda krisis ekonomi dengan ancaman kekerasan dalam rumah
tangga, perceraian, serta pelecehan dan kekerasan seksual yang makin tinggi di
segala tempat bahkan lembaga pendidikan.
Penindasan dan penghisapan pasti
melahirkan krisis, dan krisis pasti melahirkan perlawanan rakyat. Aksi-aksi
massa militan yang dilakukan oleh rakyat baik di kota-kota besar maupun
daerah-daerah telah membuktikan hal tersebut. Namun, perlawanan rakyat ini juga
dijawab dengan reaksi yang sama kerasnya dari rezim fasis Prabowo-Gibran.
Ribuan orang jadi korban kekerasan,
penangkapan, dan kriminalisasi. 10 jiwa rakyat Indonesia harus melayang akibat
brutalitas dan provokasi aparat, baik dari unsur POLRI, TNI, intelijen, juga
ormas preman bayaran.
Kini, bulan Mei segera tiba. Bulan
bersejarah, di mana gerakan kelas buruh bangkit dan menunjukkan kepahlawanannya
memimpin perjuangan rakyat sedunia, segera menanti kita. Bulan ketika rakyat
Indonesia menggulingkan kekuasaan fasis Suharto.
Mei tahun ini harus menjadi momentum
perlawanan rakyat Indonesia melawan perang Imperialis yang disokong penuh rezim
boneka dalam negeri, sehingga rakyat dapat merebut haknya atas upah, tanah, dan
kerja. Oleh sebab itu, Mei 2026 juga harus menjadi momentum makin tingginya
propaganda, pendidikan, pengorganisasian massa, dan pembangunan aliansi rakyat
Indonesia tanpa kecuali.
Tuntutan Umum Rakyat Indonesia
- Mengutuk perang agresi yang digencarkan Imperialisme AS
terhadap Negeri-negeri berdaulat dan munutut Imperialisme AS untuk segera
menghentikan semua bentuk perang yang Tengah digencarkan!
- Menuntut sikap Presiden Prabowo untuk segera keluar
dari Board Of Peace dan ISF dan membatalkan perjanjian Agreement on
Reciprocal Trade (ART), kerja sama Major Defense Cooperation Partnership
(MDCP) serta menghentikan wacana Blanket over flight
- Menuntut Presiden Prabowo untuk menjamin ketersediaan
BBM bagi rakyat dengan harga murah dan mudah di akses, termasuk produk
konsumen berbasis bahan baku industri petrokimia!
- Menuntut Presiden Prabowo untuk menghentikan dan
mencegah laju PHK, segera naikan Upah buruh, hapuskan sistem outsourcing
dan kontrak, serta sistem kerja Borongan!
- Jamin ketersediaan pupuk bagi petani menjelang musim
tanam tahun ini, perbaiki harga komoditi pertanian petani perseorangan
skala kecil, padi, kelapa dalam, sawit, karet, kopi, dan produk
hortikultura!
- Hentikan monopoli dan perampasan tanah serta
penggusuran rumah dan perkampungan rakyat, jamin hak rakyat atas tanah,
rumah dan perkampunganya!
- Turunkan biaya Pajak rakyat serta jamin ketersediaan
bahan pangan rakyat dengan harga yang terjangkau!
- Hentikan kekerasan dan kriminalisasi terhadap rakyat!
- Laksanakan Reforma Agraria Sejati dan bangun Industri
nasional!




Posting Komentar untuk "ME(i)LAWAN 2026 (BAGIAN II): BANGKIT BERSAMA RAKYAT, REBUT UPAH, TANAH DAN KERJA!"