SEPETA Indonesia : May Day 2026, Akhiri Eksploitasi Platform, Wujudkan Perlindungan dan Keadilan bagi Pengemudi Online.
Jutaan pekerja transportasi
online—ojek online, taksi online, dan kurir—hari ini menjadi tulang punggung
mobilitas masyarakat urban dan semi-urban. Namun di balik peran vital tersebut,
mereka hidup dalam ketidakpastian yang sistemik: tanpa jaminan pendapatan,
tanpa kepastian kerja, dan tanpa perlindungan sosial yang memadai. Status “mitra” yang dilekatkan oleh perusahaan
platform justru menjadi alat untuk menghindari tanggung jawab sebagai pemberi
kerja.
Praktik-praktik yang diterapkan oleh
perusahaan aplikasi semakin memperjelas ketimpangan ini. Berbagai program
seperti slot area, “aceng”, langganan
berbayar (Hemat), hingga skema “gacor”
berbayar bukanlah inovasi untuk kesejahteraan, melainkan mekanisme terselubung
yang mempertinggi persaingan antar pengemudi. Alih-alih menciptakan pemerataan
order, sistem ini mendorong driver untuk terus mengeluarkan biaya tambahan demi
sekadar mendapatkan akses terhadap pekerjaan.
Lebih jauh lagi, skema tersebut
menciptakan ilusi peluang, padahal yang terjadi adalah pemindahan risiko
sepenuhnya kepada pekerja. Driver dipaksa bersaing dalam sistem yang tidak
transparan, di mana algoritma menentukan nasib mereka tanpa akuntabilitas.
Di sisi lain, narasi “ekosistem hijau” juga tidak luput dari
kritik. Penggunaan motor listrik (molis) yang seharusnya menjadi bagian dari
solusi lingkungan justru berubah menjadi beban ekonomi baru bagi pengemudi.
Dengan biaya sewa harian berkisar Rp70.000–75.000, para driver harus bekerja
lebih lama hanya untuk menutup biaya operasional, sementara pendapatan tetap
tidak menentu. Transisi energi yang seharusnya adil (just transition) malah
menjadi alat eksploitasi baru jika tidak diiringi kebijakan perlindungan yang
berpihak pada pekerja.
Ketidakadilan juga tampak nyata
dalam praktik potongan biaya layanan. Banyak pengemudi melaporkan potongan yang
mencapai 20% hingga 35%, jauh melampaui batas maksimal 20% yang diatur dalam
regulasi. Potongan ini tidak hanya membebani driver, tetapi juga pelanggan,
menciptakan sistem yang menguntungkan platform secara sepihak.
Dalam kondisi tersebut, para
pengemudi tetap menghadapi risiko kerja yang tinggi setiap hari: kecelakaan
lalu lintas, kejahatan jalanan, hingga tekanan kerja akibat target algoritma.
Namun ironisnya, perlindungan jaminan sosial masih sangat minim. Dari sekitar
2,5 juta driver dan kurir online aktif, hanya sekitar 351.097 yang terdaftar
dalam program BPJS Ketenagakerjaan (per Oktober 2025). Artinya, lebih dari 2,2
juta pekerja berada dalam kondisi rentan tanpa perlindungan jika mengalami
kecelakaan kerja atau meninggal dunia.
Beban ini semakin berat bagi
pengemudi perempuan. Mereka tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga
kerentanan terhadap diskriminasi, pelecehan, dan kekerasan seksual. Kurangnya
sistem perlindungan yang responsif membuat banyak dari mereka harus bertahan
dalam kondisi yang tidak aman. Bahkan, realitas di lapangan menunjukkan adanya
pengemudi perempuan yang tetap bekerja sambil membawa anaknya—sebuah gambaran
nyata dari keterdesakan ekonomi yang tidak bisa ditunda.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup,
banyak pengemudi terpaksa bekerja antara 10 hingga 16 jam per hari. Waktu kerja
yang panjang ini bukan pilihan, melainkan konsekuensi dari sistem yang tidak
memberikan upah layak. Tidak sedikit pula yang harus beristirahat di jalanan,
mengorbankan kesehatan dan keselamatan demi mengejar penghasilan harian.
Dalam situasi ini, SEPETA menegaskan
bahwa pekerja platform adalah bagian tak terpisahkan dari kelas pekerja yang
harus diakui secara hukum dan dilindungi secara penuh oleh negara. Sudah
saatnya negara hadir untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diciptakan
oleh model bisnis platform digital.
Pada peringatan May Day 2026 ini,
SEPETA menyatakan komitmen untuk memperkuat organisasi pengemudi online dan
membangun solidaritas yang lebih luas bersama gerakan rakyat. Perjuangan ini
bukan hanya tentang pengemudi, tetapi tentang masa depan kerja yang adil di era
digital.
Adapun tuntutan yang diajukan SEPETA
adalah sebagai berikut:
- Mendesak Presiden untuk segera menerbitkan Peraturan
Presiden (Perpres) tentang perlindungan ojek online yang mengakui mereka
sebagai pekerja platform dengan hak atas perlindungan sosial, hak
berserikat, dan hak berunding.
- Menurunkan biaya aplikasi maksimal menjadi 10% serta
menghapus program-program yang memecah belah dan menurunkan pendapatan
driver, seperti Hemat, gacor berbayar, slot, hub, dan aceng.
- Mendesak pemerintah memberikan subsidi BBM khusus bagi
driver online sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan kerja.
- Menuntut perlindungan nyata bagi pengemudi perempuan
dari kekerasan dan pelecehan, serta jaminan keamanan dalam bekerja.
- Menuntut jaminan sosial menyeluruh, termasuk jaminan
kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan kesehatan, dan jaminan hari
tua yang ditanggung oleh aplikasi serta didukung subsidi negara.
- Menolak pemutusan kemitraan sepihak (suspend) tanpa
proses yang adil dan transparan.
- Mendesak transparansi sistem algoritma serta penerapan
sistem pembagian order yang adil dan upah yang layak.
- Menuntut kebebasan berserikat dan berunding bagi
pekerja platform digital.
Hari Buruh Sedunia adalah momentum
untuk mengingat bahwa setiap hak yang dinikmati hari ini lahir dari perjuangan
panjang. Di tengah perubahan zaman, semangat itu tidak boleh padam. SEPETA
mengajak seluruh pekerja transportasi online dan rakyat pekerja untuk bersatu,
memperkuat solidaritas, dan terus bergerak menuntut keadilan.
Karena di balik setiap perjalanan yang dipesan melalui aplikasi, ada manusia yang bekerja, ada keluarga yang bergantung, dan ada masa depan yang sedang diperjuangkan.




Posting Komentar untuk "SEPETA Indonesia : May Day 2026, Akhiri Eksploitasi Platform, Wujudkan Perlindungan dan Keadilan bagi Pengemudi Online."