Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ME(i)LAWAN 2026 (BAGIAN I): BANGKIT BERSAMA RAKYAT, LAWAN PERANG IMPERIALIS!

Diterbitkan oleh : Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis (PERISAI)


Krisis Imperialisme: Perang, Pembentukan Dunia Multipolar dan Kebangkitan Gerakan Rakyat Dunia

Sejak krisis over produksi yang meningkat menjadi krisis keuangan global pada tahun 2008, Imperialisme AS semakin terpuruk pada situasi krisis yang semakin akut dan parasitis. Krisis tidak lagi bisa diprediksikan sebagai pola periodik setiap 10 tahunan, tetapi krisis telah berlangsung semakin intensif, setiap saat dan semakin memburuk hari demi hari.


Krisis telah menggerus situasi fiskal Imperialisme AS pada situasi yang sangat buruk dimana hutang Nasional telah mencapai angka USD 37 triliun (sekitar Rp. 590.000 triliun). Bunga hutang mencapai USD 794 miliar per tahun pada tahun 2025 dan diprediksikan akan terus meningkat menembus angka USD 1 triliun tiap tahun pada tahun-tahun berikutnya. Akibatnya, terus terjadi pemotongan anggaran dana publik termasuk pendidikan, kesehatan dan infrastruktur serta sektor-sektor vital lainya termasuk pembekuan USD 26 miliar Dana federal untuk pembiayaan proyek transportasi di New york dan proyek energi hijau (Green Energy) di 16 Negara bagian. Selain itu, kebijakan tarif yang tidak konsisten juga telah memberikan kontraksi pada PDB, misal pada tahun 2025 dilaporkan kontraksi akibat tarif tersebut mencapai besaran -0,3% dari PDB.

 

Selain krisis finansial, Imperialisme juga tengah mengalami krisis energi akibat perang agresi yang dijalankanya sendiri. Perang Imperialisme AS-Israel versus Iran dan penutupan Selat Hormuz telah berakibat pada hilangnya 12 juta barel pasokan minyak perhari atau setara 11,5% dari permintaan global. Demikian halnya, sekitar 20% produksi Gas Alam dari Qatar juga turut terganggu akibat situasi ini. Situasi ini seperti yang disebutkan oleh Internasional Energi Agency (IEA) sebagai kondisi krisis energi yang melampaui situasi krisis energi tahun 1973, 1979 dan 2022 dan bahkan jika semua krisis tersebut digabungkan.

 

Imperialisme AS sebagai kekuatan paling reaksioner dan paling sovinis tentu tidak ingin sendiri menanggung beban krisis yang dihadapi, tetapi memaksa beban krisis tersebut dipindahkan ke pundak kelas buruh di pabrik-pabrik dan melalui perjanjian kerja sama, hutang dan investasi juga memindahkanya ke pundak rakyat di negeri jajahan dan setengah jajahan. Inilah proses yang menunjukkan betapa parasitisnya krisis yang tengah terjadi dalam sistem Imperialisme saat ini.

 

Tuntutan Tatanan Dunia Multi Polar, Wujud Pertentangan Antar Kekuatan Imperialis dan Dampaknya bagi Krisis Umum di Dunia

Krisis yang dihadapi dalam sistem Imperialisme saat ini tidak hanya terus mempertajam pertentangan pokok dengan seluruh rakyat dan bangsa tertindas dan terhisap di dunia, akan tetapi juga telah menyulut pertentangan yang semakin sengit di antara mereka. Pertentangan yang terus bergerak menuju pembentukan Dunia Multipolar. China sejak mendeklarasikan jalan sutera One Belt One Road (OBOR) hingga kini telah bertransformasi menjadi Belt Road Initiative (BRI) terus menunjukkan diri sebagai negeri Imperialis paling serius membangun dunia Multipolar, bersama Rusia membangun aliansi BRICS menggandeng negeri-negeri lainya adalah salah satu perwujudan dari keseriusan tersebut. Bahkan secara terbuka memberikan dukungan terhadap negeri-negeri yang diperangi oleh Imperialis AS. Seperti halnya Imperialisme AS, China–Rusia juga terus membangun hegemoninya melalui jalan ekonomi, politik dan bahkan dukungan atas perang menentang Imperialisme AS. Meski perang tersebut belum mengarah pada perang terbuka namun setidaknya telah membuat Imperialisme AS kalang kabut dan dengan berbagai tindakan politik gegabahnya justeru semakin memperburuk situasi krisisnya.

 

Imperialisme AS tidak tinggal diam. Pembentukan dunia multipolar terus dicegah dengan berbagai jalan mulai dari perang dagang (trade war), perang secara langsung maupun melalui proksinya (proxy war). Perang Imperialis yang dikobarkan AS-Israel terhadap Iran adalah kelanjutan dan perluasan perang Proxi yang dikobarkan di Ukraina (Eropa Timur) yang bertujuan mencegah dan mengisolasi kekuatan Rusia, memaksa ketergantungan Uni Eropa terhadap AS akibat penajaman kontradiksi di dalam NATO, penguatan Doktrin Monroe di Amerika Latin, provokasi politik dan untuk mengakhiri rezim anti Imperialisme AS di banyak negeri.

 

Secara khusus, perang agresi AS ke Iran telah dirancang sejak 2003 melalui kebijakan TIRANNT (Theater Iran Near Term) yang bertujuan khusus untuk mengamankan pasokan minyak dari kawasan teluk, melindungi sekutunya di negeri-negeri teluk, menguasai jalur distribusi minyak dan gas sepanjang garis mesir, Gaza – Palestina, Yordania, Suriah untuk jalur ke Eropa.

 

Perang agresi dan semua aksi militer Imperialisme AS juga sebagai perluasan dan kelanjutan Perang ekonomi seperti persaingan mata uang (currency war), perang dagang (trade war) dan kebijakan tarif Trump. Singkatnya, perang agresi juga digunakan oleh Imperialisme AS untuk memaksa semua negeri untuk tunduk pada kebijakan ekonominya dan selanjutnya dengan sukarela bahu-membahu menyelamatkan Imperialisme AS dari jurang krisisnya.

 

Perang Imperialisme AS Semakin Memperdalam Krisis Kronis bagi Rakyat Dunia

Imperialisme adalah persiapan untuk perang dan perang itu sendiri. Krisis, rivalitas antar imperialisme hingga tuntutan banyak negeri untuk tidak lagi bergantung pada sistem yang sekarat sebagai syarat objektif bagi imperialisme AS untuk tetap menebar perang sebagai cara untuk tetap mempertahankan eksistensinya sebagai pemonopoli yang utama.

 

Di sisi lain, kompleks industri persenjataan terus memproduksi senjata tanpa henti melahirkan tumpukan alutista yang membutuhkan pasar-pasar yang lebih luas. Perang akhirnya adalah pasar yang menjanjikan bagi produk-produk persenjataan over produksi tersebut. Singkatnya perang merupakan sumber bagi Imperialisme untuk meraup super-profit di sisi lain baik dari perdagangan persenjataan hingga proyek pembangunan pasca perang.

 

Sayangnya, sebagaimana ungkapan “Imperialisme tengah menggali liang kuburnya sendiri”, begitulah Imperialisme AS saat ini. Semakin luas perang yang digencarkan semakin dalam lubang krisis yang digalinya. Untuk membiayai perang yang digencarkan, Imperialisme AS telah menggelontorkan biaya yang sangat besar bahkan diprediksikan mencapai setara 10 kali lipat APBN Indonesia, pembiayaan tersebut berakibat pada semakin berlipatnya hutang jangka panjang AS. Perang pada kenyataannya berdampak pada lonjakan harga energi, inflasi dan instabilitas pasar internasional yang memukul balik situasi ekonomi Imperialisme AS itu sendiri.

 

Di Amerika Serikat secara khusus, sektor teknologi dan manufaktur (industri chip, AI, penerbangan dan otomotif) mengalami tekanan dahsyat akibat perang agresi dan tarif. Dampaknya beberapa perusahaan terpaksa ditutup atau merelokasi operasinya. Sementara di sektor keuangan akibat volatilitas pasar dan sektor pertahanan akibat meningkatnya permintaan dilaporkan mengalami lonjakan pendapatan.

 

Krisis dan Kebangkitan Gerakan Rakyat Dunia Melawan Imperialisme AS

Krisis telah mengakibatkan penderitaan yang semakin tidak terperi bagi seluruh rakyat di dunia. Tidak hanya kelas buruh di dalam pabrik, atau kaum tani di negeri-negeri terbelakang, bahkan kelas menengah juga turut mengalami keterpurukan akibat situasi krisis. Situasi tersebut semakin diperparah dengan perang yang digencarkan oleh Imperialisme AS yang telah memperburuk kenaikan harga energi fosil, inflasi, terganggunya jalur perdagangan barang, tidak hanya di area Selat Hormuz, akan tetapi juga distribusi barang-barang hasil industri dan pertanian di dunia.

 

Hasil-hasil kerja klas buruh dan klas pekerja mengalami penghancuran, kemerosotan dan stagnasi produksi industri, dan terganggunya pertukaran barang komoditi di tingkat global.

 

Akhirnya, Sektor industri paling terdampak adalah sektor manufaktur tekstil dan garmen, otomotif, plastik serta produk industri petrokimia. Ancaman nyata adalah PHK, penurunan status kerja dari tetap menjadi kontrak, perluasan sistem kerja kontrak, dan borongan dengan dalih efisiensi industri.

 

Situasi ini telah menyulut kebangkitan gerakan rakyat dunia, menyuarakan tuntutan menghentikan Perang Imperialis pimpinan AS, melepaskan diri dari ketergantungan kepada imperialisme AS, termasuk penggantian rezim di negeri-negeri yang menjadi sekutu dan kaki tangan Imperialisme AS baik melalui pemilu maupun gerakan massa.

 

Di negeri-negeri Imperialis, situasi ini juga telah mempertajam kontradiksi di antara Imperialis dan meningkatkan perlawanan rakyat melawan rezim berkuasa di dalam negeri yang tercermin dalam gerakan No Kings di AS, pemakzulan Trump, dan menentang perang agresi AS bersama Israel ke Iran, maupun kebangkitan gerakan anti perang agresi AS maupun dukungan/solidaritas terhadap rakyat Iran yang terjadi di banyak negeri.

Posting Komentar untuk "ME(i)LAWAN 2026 (BAGIAN I): BANGKIT BERSAMA RAKYAT, LAWAN PERANG IMPERIALIS!"