Survei SEPETA: Di Balik Fleksibilitas Kerja Platform, Pekerja Menanggung Beban dan Risiko
Perkembangan ekonomi berbasis
platform telah mengubah wajah dunia kerja. Melalui aplikasi digital, seseorang
dapat memperoleh penghasilan dengan menjadi pengemudi transportasi, kurir
makanan, maupun penyedia jasa rumah tangga dan kecantikan. Pekerjaan ini kerap
dipromosikan sebagai pekerjaan yang fleksibel karena pekerja dianggap bebas
menentukan waktu dan intensitas kerjanya.
Namun, hasil survei lapangan yang
dilakukan Serikat Pengemudi Transportasi (SEPETA) pada 2025
memperlihatkan gambaran yang berbeda. Di balik fleksibilitas pekerjaan
platform, terdapat persoalan panjang mengenai ketergantungan ekonomi, jam kerja
yang panjang, pendapatan yang harus dipotong berbagai biaya operasional, risiko
keselamatan dan kesehatan kerja, lemahnya jaminan sosial, hingga dampak
perubahan iklim.
Survei tersebut dilakukan terhadap 200
responden, masing-masing 50 responden di Jakarta, Bekasi, Banten, dan DI
Yogyakarta. Responden terdiri dari 155 laki-laki dan 45 perempuan. Dari sisi
status perkawinan, 133 responden telah berkeluarga, 62 lajang, dan 5 merupakan
single parent.
Komposisi ini memperlihatkan bahwa
pekerja platform bukan semata-mata anak muda yang menggunakan aplikasi sebagai
pekerjaan sambilan. Sebagian besar merupakan pekerja dalam usia produktif dan
telah memiliki tanggungan keluarga. Bahkan, data survei menunjukkan bahwa
pekerjaan platform bagi sebagian besar responden telah menjadi pekerjaan utama
dan sumber penghidupan yang penting.
Bekerja
Penuh di Platform
Sebanyak 82 persen responden
mengaku bekerja penuh di platform atau aplikator. Hanya 16 persen yang
memiliki pekerjaan utama lain, sedangkan 2 persen bekerja di platform sekadar
mengisi waktu kosong, seperti mahasiswa, orang yang baru tamat sekolah, atau
mereka yang sedang mencari pekerjaan.
Angka ini menjadi penting karena
memperlihatkan tingkat ketergantungan pekerja terhadap platform. Bagi sebagian
besar responden, aplikasi bukan sekadar alat untuk mendapatkan tambahan
pendapatan, melainkan tempat mereka menggantungkan kehidupan ekonomi.
Ketergantungan tersebut membuat
berbagai keputusan perusahaan platform memiliki konsekuensi langsung terhadap
kehidupan pekerja. Perubahan sistem, pembagian pesanan, insentif, tarif, maupun
kebijakan lainnya dapat memengaruhi pendapatan pekerja. Dalam situasi seperti
ini, fleksibilitas kerja tidak serta-merta berarti pekerja memiliki posisi
tawar yang kuat. Justru sebaliknya, ketika pekerjaan platform menjadi sumber
penghidupan utama, pekerja semakin bergantung pada keberlangsungan akses mereka
terhadap aplikasi.
Fleksibilitas
yang Dibayar dengan Jam Kerja Panjang
Survei SEPETA juga menunjukkan bahwa
fleksibilitas kerja tidak selalu berarti waktu kerja yang pendek. Sebanyak 60
persen responden bekerja 8–12 jam sehari, sementara 20 persen lainnya
bekerja lebih dari 12 jam sehari. Hanya 16 persen yang bekerja 4–8 jam dan 4
persen yang bekerja kurang dari empat jam sehari. Dengan demikian, sekitar 80
persen responden bekerja sedikitnya delapan jam dalam sehari.
Temuan ini memperlihatkan adanya
kontradiksi antara narasi fleksibilitas dengan kenyataan di lapangan. Pekerja
memang dapat memilih kapan bekerja, tetapi kebutuhan memperoleh pendapatan
mendorong mereka untuk memperpanjang waktu kerja.
Jam kerja yang panjang juga berarti
semakin lama pekerja terpapar berbagai risiko. Bagi pengemudi dan pekerja
pengantaran, risiko tersebut dapat muncul dari lalu lintas, kondisi jalan,
cuaca, kelelahan, hingga kecelakaan. Sementara bagi pekerja jasa, semakin
panjang waktu bekerja juga berarti semakin besar beban fisik yang harus
ditanggung. Dengan kata lain, kebebasan menentukan waktu kerja belum tentu sama
dengan kebebasan menentukan kondisi kerja.
Pendapatan
Kotor yang Masih Harus Dipotong Biaya Kerja
Data survei mencatat pendapatan
mingguan pekerja berbasis platform. Pekerja layanan berbagi tumpangan
memperoleh rata-rata pendapatan antara Rp787.600 hingga Rp1.826.000 per
minggu, sedangkan pekerja food delivery memperoleh sekitar Rp738.500
hingga Rp1.574.000 per minggu. Untuk pekerja home service dan kecantikan,
pendapatan disebut tidak pasti, berada pada kisaran Rp300.000 hingga Rp670.000 per minggu.
Namun, terdapat catatan penting:
angka tersebut merupakan pendapatan kotor. Pendapatan tersebut belum
dikurangi biaya bahan bakar, makan dan minum, parkir, maupun pulsa dan data
internet.
Artinya, angka pendapatan yang
terlihat di atas belum menggambarkan secara utuh kemampuan ekonomi pekerja.
Sebagian dari pendapatan tersebut harus dikembalikan untuk membiayai proses
kerja itu sendiri.
Khusus bagi pengemudi, kendaraan
merupakan alat produksi utama. Bahan bakar, perawatan, suku cadang, hingga
kerusakan kendaraan menjadi biaya yang harus ditanggung pekerja. Ketika
biaya-biaya tersebut meningkat, pendapatan bersih pekerja secara otomatis ikut
tergerus. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam pekerjaan platform terdapat
berbagai biaya produksi yang sebagian besar dibebankan kepada pekerja.
Multi-Platform
sebagai Strategi Bertahan
Survei juga menemukan bahwa sebagian
besar responden menggunakan lebih dari satu platform. Sebanyak 47 persen
responden bekerja dengan 2–3 platform, 38 persen bekerja dengan 1–2
platform, dan 15 persen hanya menggunakan satu platform.
Penggunaan beberapa platform dapat
dipahami sebagai strategi pekerja untuk mempertahankan pendapatan. Ketika order
dari satu aplikator tidak mencukupi, pekerja dapat mengandalkan aplikasi lain.
Namun, kondisi ini sekaligus
memperlihatkan adanya ketidakpastian dalam pekerjaan. Pekerja harus
mengoptimalkan berbagai aplikasi agar memperoleh pesanan yang cukup.
Multi-platform dengan demikian bukan hanya menunjukkan fleksibilitas, tetapi
juga dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi pekerja terhadap ketidakpastian
pendapatan.
Risiko
Kerja Mengikuti Pekerja ke Jalan
Pekerjaan platform juga tidak lepas
dari risiko keselamatan. Sebanyak 44 persen responden layanan berbagi
tumpangan mengaku mengalami risiko selama bekerja, sedangkan 16 persen
responden food delivery mengaku mengalami risiko. Risiko tersebut menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan yang berlangsung di jalan dan
ruang publik.
Persoalannya bukan hanya bagaimana
mencegah kecelakaan, tetapi juga siapa yang menanggung dampak ketika risiko
tersebut benar-benar terjadi. Ketika pekerja mengalami kecelakaan, sakit, atau
kerusakan kendaraan, konsekuensinya dapat langsung menghilangkan pendapatan
mereka. Situasi tersebut menjadi semakin berat bagi pekerja yang tidak memiliki
jaminan sosial.
Lebih
dari Separuh Mengalami Penurunan Kesehatan
Sebanyak 52 persen responden
mengaku mengalami penurunan masalah kesehatan selama bekerja di platform. Temuan
ini tidak dapat dilepaskan dari panjangnya waktu kerja serta kondisi lingkungan
tempat pekerja menjalankan pekerjaannya.
Pekerja platform, khususnya
pengemudi dan kurir, harus berhadapan langsung dengan panas, hujan, banjir,
lalu lintas, serta kondisi jalan. Ketika pekerjaan berlangsung selama delapan
hingga lebih dari 12 jam sehari, akumulasi paparan tersebut berpotensi semakin
membebani kondisi fisik pekerja.
Survei SEPETA belum merinci jenis
gangguan kesehatan yang dialami responden. Namun, angka 52 persen menunjukkan
bahwa persoalan kesehatan merupakan isu yang perlu mendapatkan perhatian serius
dalam pembahasan mengenai pekerjaan platform.
Krisis
Iklim Memukul Pendapatan Pekerja
Salah satu temuan yang paling
menonjol dalam survei adalah besarnya dampak perubahan iklim terhadap pekerja
platform. Sebanyak 50 persen responden mengaku mengalami pusing akibat suhu
panas yang meningkat. Sementara itu, 76 persen mengaku mengalami kerugian
akibat hujan berlebihan dan 74 persen mengalami kerugian akibat banjir.
Sebanyak 18 persen mengalami kerugian akibat angin kencang dan 4 persen
mengalami kedinginan berlebihan ketika bekerja malam hari.
Bagi pekerja platform, cuaca ekstrem
bukan sekadar persoalan kenyamanan bekerja. Hujan dan banjir dapat secara
langsung mengurangi pendapatan. Banjir misalnya, membuat pekerja tidak
mendapatkan pesanan atau harus mengambil rute lebih jauh untuk menghindari
jalan yang terendam. Akibatnya, konsumsi bahan bakar meningkat dan waktu tempuh
menjadi lebih panjang.
Bahkan 42 persen responden
mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki kendaraan atau
mesin akibat terendam banjir maupun melewati rute yang terendam banjir. Ini
menunjukkan bahwa dampak krisis iklim diterima secara langsung oleh pekerja
dalam bentuk kehilangan pendapatan sekaligus peningkatan biaya kerja.
Pekerja platform dengan demikian
berada pada posisi yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Mereka bekerja
di ruang terbuka, bergantung pada mobilitas, dan pendapatannya sangat
dipengaruhi oleh kelancaran perjalanan serta kondisi cuaca.
62
Persen Tidak Memiliki Jaminan Sosial
Di tengah tingginya risiko
pekerjaan, persoalan jaminan sosial menjadi temuan yang sangat mengkhawatirkan.
Sebanyak 62 persen responden mengaku tidak memiliki BPJS Kesehatan maupun
BPJS Ketenagakerjaan. Sebanyak 12 persen memiliki BPJS Kesehatan melalui
KIS/PBI, 10 persen melalui pasangan yang bekerja di perusahaan, dan hanya 16
persen yang memiliki BPJS Ketenagakerjaan secara mandiri. Dengan kata lain,
mayoritas responden tidak memiliki perlindungan jaminan sosial yang memadai
melalui kepesertaan yang mereka miliki sendiri.
Kondisi tersebut menjadi semakin
serius apabila disandingkan dengan temuan lain dalam survei: 80 persen bekerja
sedikitnya delapan jam sehari, 44 persen pekerja berbagi tumpangan mengalami
risiko kerja, 52 persen mengalami penurunan kesehatan, dan 42 persen harus
mengeluarkan biaya tambahan akibat kerusakan kendaraan terkait banjir.
Artinya, kelompok pekerja yang
menghadapi berbagai risiko justru sebagian besar belum memiliki perlindungan
sosial yang memadai.
Pekerjaan
Platform Bukan Lagi Pekerjaan Sementara
Data lama bekerja juga
memperlihatkan bahwa pekerjaan platform telah menjadi pekerjaan jangka panjang
bagi banyak responden. Sebanyak 52 persen responden mengaku telah bekerja di
platform selama delapan tahun atau lebih, sementara 38 persen telah bekerja
selama lima hingga delapan tahun. Dokumen mencatat 10 persen responden bekerja
kurang dari empat tahun. Data tersebut semakin memperkuat kenyataan bahwa
pekerjaan platform tidak lagi dapat dilihat semata-mata sebagai pekerjaan
sementara atau pekerjaan sambilan.
Bagi banyak pekerja, platform telah
menjadi tempat bekerja selama bertahun-tahun. Mereka membangun kehidupan
ekonomi dengan mengandalkan pekerjaan tersebut, bahkan ketika pekerjaan itu
tidak memberikan kepastian pendapatan dan perlindungan sosial yang setara
dengan kebutuhan mereka.
Karena itu, pembahasan mengenai
pekerja platform perlu bergerak melampaui narasi mengenai teknologi dan
fleksibilitas. Yang harus dibicarakan adalah bagaimana memastikan kehidupan
dan penghidupan pekerja yang berada di balik ekonomi digital tersebut.
Perempuan
dalam Ekonomi Platform
Survei SEPETA juga menunjukkan
adanya pembagian yang cukup jelas berdasarkan jenis layanan. Dari 30 responden
layanan Home Service dan Kecantikan, 28 merupakan perempuan dan hanya 2
laki-laki. Sementara pada layanan berbagi tumpangan terdapat 72 laki-laki
dan 12 perempuan, sedangkan food delivery terdiri dari 76 laki-laki dan 10
perempuan. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki konsentrasi
yang tinggi pada jenis layanan tertentu, terutama home service dan kecantikan.
Survei ini belum memberikan data
yang cukup mengenai bentuk kekerasan, pelecehan, diskriminasi, atau risiko
khusus yang dialami perempuan dalam pekerjaan tersebut. Karena itu, persoalan
tersebut belum dapat disimpulkan berdasarkan survei. Namun, temuan mengenai
konsentrasi perempuan pada layanan tertentu menunjukkan pentingnya penelitian
lebih lanjut mengenai dimensi gender dalam pekerjaan platform.
Dari
Fleksibilitas Menuju Perlindungan
Jika berbagai temuan survei SEPETA
dibaca secara keseluruhan, terlihat sebuah pola yang kuat. Pekerja platform
memperoleh fleksibilitas dalam mengakses pekerjaan, tetapi pada saat yang sama
harus menanggung berbagai risiko yang melekat pada pekerjaan tersebut.
Mereka bekerja dalam waktu panjang.
Pendapatan yang diperoleh masih berupa pendapatan kotor dan harus digunakan
kembali untuk membiayai kebutuhan kerja. Sebagian pekerja menggunakan beberapa
platform sekaligus untuk mempertahankan pendapatan. Mereka menghadapi risiko
keselamatan, penurunan kesehatan, cuaca ekstrem, banjir, dan kerusakan
kendaraan.
Di sisi lain, 62 persen responden
tidak memiliki BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Kondisi tersebut
menunjukkan adanya ketimpangan antara besarnya ketergantungan pekerja terhadap
pekerjaan platform dengan tingkat perlindungan yang tersedia bagi mereka.
Survei SEPETA memperlihatkan bahwa
persoalan pekerja platform bukan sekadar persoalan teknologi atau pilihan
individu untuk bekerja melalui aplikasi. Ini merupakan persoalan
ketenagakerjaan yang menyangkut pendapatan, jam kerja, kesehatan, keselamatan,
jaminan sosial, dan dampak perubahan iklim.
Karena itu, pembicaraan mengenai
masa depan ekonomi platform harus menempatkan pekerja sebagai bagian utama.
Fleksibilitas tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan perlindungan.
Digitalisasi ekonomi tidak seharusnya berjalan dengan cara memindahkan seluruh
risiko pekerjaan kepada mereka yang berada di jalan, mengantarkan pesanan,
mengangkut penumpang, membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan memberikan
layanan kepada pelanggan.
Di balik setiap aplikasi terdapat
pekerja. Dan di balik setiap pesanan, terdapat tenaga, waktu, biaya, serta
risiko yang ditanggung oleh pekerja.
Temuan SEPETA pada akhirnya menunjukkan
bahwa tantangan utama ekonomi platform bukan hanya bagaimana memperluas layanan
digital, tetapi bagaimana memastikan bahwa perkembangan ekonomi tersebut juga
menghadirkan kerja yang layak, pendapatan yang adil, keselamatan kerja,
jaminan sosial, dan perlindungan terhadap pekerja yang menopangnya.



Posting Komentar untuk "Survei SEPETA: Di Balik Fleksibilitas Kerja Platform, Pekerja Menanggung Beban dan Risiko"