Gerakan Mahasiswa yang Heroisme Belaka
Penulis : Lidwina Nathania (Mahasiswa Universitas Negeri Semarang)
Tidak bisa terhindarkan, jika gerakan mahasiswa tentu
berperan dalam merawat demokrasi. Saat saya datang ke suatu tempat yang pernah
terdampak konflik agraria, salah satu bapak mengatakan bahwa mahasiswa harus
mewakili suara rakyat yang terbungkam oleh kekuasaan. Namun, setelah mengarungi
gerakan mahasiswa di beberapa daerah, terlintas pertanyaan: apakah bentuk demokrasi ini yang benar-benar
kita inginkan?
Mulai timbul keraguan antara kita dalam merespon gerakan
mahasiswa. Bahkan pada beberapa aksi, muncul sikap kecewa sebab aksi seringkali
menguap bersama substansi. Ditambah bayang-bayang narasi pemberitaan aksi yang
berakhir “rusuh”. Akhir-akhir ini,
aksi mahasiswa terkesan memperkeruh suasana. Penurunan kepercayaan masyarakat
terhadap mahasiswa yang melakukan aksi mulai bermunculan. Sebab menurut mereka,
aksi mahasiswa hanya menambah macet dan ditunggangi pihak yang untung karena
aksi. Hal ini yang membuat aksi mahasiswa, terkesan heroisme belaka.
Seringkali mudah bagi mahasiswa untuk mengkritik penguasa.
Namun, seringkali juga tidak kreatif dalam mencoba berbagai metode gerakan
melawan permasalahan struktural negeri ini. Kekuasaan kebal akan perlawanan
dari masyarakat sipil. Sebab, ia telah biasa membaca pola gerakan mahasiswa
yang telah berlangsung dengan cara lama. Mulai dari merespon kebijakan,
mengumpulkan massa untuk konsolidasi, yang pada akhirnya berujung pada aksi.
Gerakan rakyat yang idealnya lahir dari dorongan moral, kini bertransformasi
jadi “ke-aku-an” gerakan.
Hingga saat ini, saya melihat bahwa gerakan mahasiswa masih
bergumul pada lingkaran merespon kebijakan, lalu konsolidasi, dan berakhir pada
aksi. Dalam hal ini, kritik hanya bersifat momentual dan tidak menyentuh
permasalahan yang struktural. Pada akhirnya, pergerakan bersifat reaktif dan
hanya mengulang-ulang kekalahan yang sama.
Apabila kita melihat aksi reformasi 1998, aksi mahasiswa
belum berhasil menumpas secara keseluruhan “tubuh-tubuh
kediktatoran” Soeharto. Masih ada sisa-sisanya sekarang yang bahkan
menduduki kursi-kursi kekuasaan.
Sistem yang terbentuk pasca aksi reformasi 1998, ujungnya
tak benar-benar menutup kursi kekuasaan tersebut. Tidak adanya alat yang cukup
runcing untuk merebut kursi lama itu, semakin menjadi pertunjukan politik para
penguasa untuk mengelabui masyarakat agar kekayaannya aman.
Peristiwa reformasi 1998, penting memberikan kita pemahaman
bahwa memandang masalah dari “apa yang
dilihat oleh mata saja”, tak cukup. Perlu analisis komprehensif agar
melihat masalah dan kebijakan secara struktural.
Aksi
berkali-kali, Kekalahan Tak Lagi Berarti
Jika mencermati aksi yang terjadi akhir-akhir ini, terlihat
penuh dengan kritik dan amarah. Namun, jika kita menelisik lebih dalam: kemana
suara di sound-sound aksi yang berbicara tentang warga terdampak krisis
air bersih, kekurangan pangan karena mahal, dan mereka yang harus merogoh kocek
untuk beli bensin bagi motor tuanya?
Ratusan kali turun aksi, puluhan kali tagar seruan merespon
kebijakan, berkali-kali kontra narasi dengan pemerintah dan korporasi, namun
ketimpangan semakin meningkat dan kebijakan semakin ngawur. Maka,
bagaimana respon mahasiswa agar melihat kacamata yang lebih struktural?
Guna memahami kewenangan penguasa yang mengakibatkan
permasalahan di masyarakat, kita perlu mengetahui terlebih dahulu: apa akar dari dibuatnya kebijakan ini?
Sehingga, pemikiran kita akan lebih terstruktur untuk
memulai “Langkah pertama apa untuk
meruntuhkan rencana dan implementasi penguasa?”
Aksi yang datangnya dari luar sebagai bentuk merespon
tindakan pemerintah, seringkali hanya membuat pemerintah semakin defensif dan
represif kepada masyarakat. Perawatan gerakan masyarakat yang nyatanya lebih
strategis perlu untuk dilakukan. Beberapa diantaranya yaitu: riset, diskusi dan
kampanye publik bagi masyarakat sipil bersama mahasiswa, pengaduan masyarakat,
pengajuan gugatan, penyatuan solidaritas, narasi dan ekonomi mandiri
masyarakat. Salah satu gerakan mahasiswa yang membantu masyarakat dan
mengkritik pemerintah adalah dengan adanya pasar gratis atau “food not bomb”. Beberapa kolektif di
Salatiga, Rembang, Semarang mengadakan hal itu dengan tujuan agar pemerintah
melihat kesejahteraan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hal itulah yang menjadi
cara strategis dalam menyuarakan keresahan masyarakat yang lebih bernafas
panjang. Tidak momentual seperti aksi mahasiswa kebanyakan. Sehingga kekalahan
bukan lagi berarti menjadi pelajaran, melainkan kebiasaan.
Aksi mahasiswa perlu melebur jadi “Gerakan Rakyat”. Ia perlu memahami terlebih dahulu permasalahan di
masyarakat secara langsung. Bukan berdasarkan ingin berjuang untuk masyarakat,
tapi bersama masyarakat. Setelah memahami masalah di akar rumput, barulah
bersolidaritas merencanakan strategi bersama masyarakat yang dikalkulasi akan
berhasil. Hal ini mengarahkan masyarakat sipil untuk kembali ke tujuan awal
yaitu sebagai upaya melemahkan sistem pemerintah maupun korporasi, sebesar
apapun pengaruhnya.
Jika mahasiswa masih percaya bahwa dirinya
adalah jembatan lidah antara masyarakat dengan pemerintah atau penguasa
lainnya, maka ia perlu mengkritisi diri. Sudah sejauh apa ia berlari menuju
aksi daripada mendalami akar permasalahan yang benar-benar terjadi di
masyarakat?




Posting Komentar untuk "Gerakan Mahasiswa yang Heroisme Belaka"