Menggugat Krisis dari Bulukumba: PERISAI Bulukumba Serukan Persatuan Rakyat Lawan Kebijakan Yang Menindas !
Bulukumba, 18 Juni 2026 – Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Persatuan
Rakyat Indonesia Anti Imperialisme (PERISAI) Kabupaten Bulukumba menggelar aksi
demonstrasi bertajuk “Bebaskan Negara dari Cengkeraman Imperialisme”,
Kamis (18/6). Aliansi tersebut terdiri dari AGRA Bulukumba, FMN Bulukumba, FMN
Ranting Unismuh Bulukumba, IMM Bulukumba, Kolaborasi Biru, dan Koalisi Masyarakat
Panrita Lopi (KOMPI). Aksi dilakukan di tiga titik, yakni Pertigaan Teko,
Gedung DPRD Bulukumba, dan Jalan Jenderal Sudirman di antara Gedung Phinisi dan
Gedung Ammatoa.
Massa mulai berkumpul sekitar pukul
14.00 WITA dan bergerak menuju lokasi aksi pertama di Pertigaan Teko. Aksi
dipandu oleh Egil selaku jenderal lapangan yang membuka kegiatan dengan orasi
politik sekaligus menjelaskan tujuan demonstrasi. Menurutnya, aksi tersebut
bukan merupakan gerakan spontan, melainkan lahir dari hasil investigasi dan
kajian terhadap situasi nasional yang dinilai semakin berdampak pada kehidupan
rakyat di berbagai sektor.
Dalam pernyataannya, PERISAI menilai
kondisi ekonomi nasional saat ini tidak dapat dilepaskan dari situasi
internasional. Mereka menyebut persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok
sebagai kekuatan ekonomi dunia telah mendorong berbagai gejolak ekonomi global.
Kebijakan moneter Amerika Serikat yang menaikkan suku bunga dolar, menurut
mereka, menyebabkan modal asing keluar dari negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia. Situasi tersebut dinilai berkontribusi terhadap pelemahan nilai
tukar rupiah, meningkatnya harga berbagai kebutuhan, serta semakin tingginya
beban utang luar negeri.
Aliansi tersebut juga menyoroti
kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil
Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mereka menilai sejumlah program seperti Makan
Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pembangunan enam
Komando Daerah Militer (Kodam) baru, serta pembentukan 750 Batalyon Teritorial
Pembangunan, telah memperbesar beban anggaran negara. Menurut PERISAI, defisit
APBN yang terjadi kemudian direspons pemerintah dengan memangkas berbagai
subsidi, meningkatkan sejumlah jenis pajak, serta menjalankan kebijakan yang
dinilai semakin membebani rakyat.
Dalam orasi politiknya, Wa’dil dari
KOMPI menyatakan bahwa berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat
ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada
rakyat. Ia menilai beban pembiayaan negara justru dialihkan kepada masyarakat
melalui kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), kenaikan harga bahan bakar
minyak, serta kebijakan lainnya yang berdampak langsung terhadap biaya hidup
masyarakat.
Sementara itu, Jayadi dari IMM
Bulukumba menyoroti dampak yang telah dirasakan masyarakat di tingkat lokal.
Menurutnya, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar serta meningkatnya
harga kebutuhan pokok menjadi gambaran nyata memburuknya kondisi ekonomi yang
juga dirasakan masyarakat Kabupaten Bulukumba.
PERISAI mengungkapkan bahwa hasil
investigasi yang mereka lakukan menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi
masyarakat akibat kenaikan harga BBM. Banyak warga yang sebelumnya menggunakan
Pertamax beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran. Namun, keterbatasan
stok Pertalite berpotensi menimbulkan kelangkaan yang pada akhirnya memaksa
masyarakat kembali menggunakan BBM dengan harga lebih tinggi, sementara
pendapatan masyarakat dinilai tidak mengalami peningkatan. Investigasi di
sejumlah warung juga menemukan kenaikan harga berbagai kebutuhan dapur yang
semakin menekan daya beli masyarakat.
Aksi di Pertigaan Teko juga diwarnai
dengan pertunjukan teatrikal yang dipersembahkan oleh FMN Ranting Unismuh
Bulukumba. Teatrikal tersebut menggambarkan pandangan mereka mengenai Indonesia
sebagai negara yang masih berada dalam kondisi setengah jajahan dan setengah
feodal. Dalam pementasan itu ditampilkan tokoh-tokoh yang merepresentasikan
kekuatan imperialisme dan penguasa nasional, serta berbagai sektor masyarakat
yang mengalami penindasan dan eksploitasi.
Melalui pertunjukan tersebut, kaum
tani menyuarakan tuntutan reforma agraria sejati dan pemenuhan kebutuhan
produksi pertanian. Kaum buruh menuntut upah yang layak, jam kerja sesuai
aturan, serta pemenuhan hak-hak dasar lainnya. Nelayan menuntut akses BBM yang
mudah dan terjangkau, sedangkan mahasiswa menuntut pendidikan yang ilmiah,
demokratis, dapat diakses seluruh pemuda, serta tersedianya lapangan pekerjaan
yang memadai.
Menurut peserta aksi, berbagai
tuntutan rakyat selama ini justru kerap berhadapan dengan aparat negara. Mereka
menilai kondisi tersebut mencerminkan situasi yang dihadapi berbagai sektor
masyarakat di tengah pemerintahan Prabowo-Gibran. Karena itu, PERISAI memandang
bahwa Indonesia tidak dapat terus berada dalam sistem yang mereka sebut sebagai
setengah jajahan dan setengah feodal, yang ditandai oleh dominasi modal asing,
monopoli tanah, serta praktik pemerintahan yang dinilai sarat kepentingan
kapitalis-birokrat.
Sekitar pukul 15.30 WITA, massa
melanjutkan long march menuju Gedung DPRD Bulukumba untuk membentangkan spanduk
dan menyampaikan orasi. Setelah itu, mereka bergerak ke titik aksi terakhir di
Jalan Jenderal Sudirman untuk kembali menyuarakan berbagai persoalan yang
mereka anggap sedang dihadapi rakyat saat ini.
Dalam pernyataan sikapnya, PERISAI
Bulukumba menyampaikan sebelas tuntutan mendesak kepada pemerintah. Tuntutan
tersebut antara lain menghentikan kenaikan harga BBM dan bahan pokok,
memperbaiki pelemahan nilai tukar rupiah, menghentikan program MBG dan Koperasi
Desa Merah Putih yang dinilai sarat KKN, menghentikan gelombang PHK massal,
mencabut UU Polri, menghentikan pembangunan batalion teritorial TNI,
memperbaiki defisit APBN dan menghentikan pemborosan anggaran pertahanan,
menaikkan kesejahteraan guru honorer, menolak program Sekolah Rakyat serta
menuntut alokasi anggaran pendidikan sesuai amanat konstitusi, membuka
transparansi Badan Pengelola Investasi Danantara, serta mencopot Menteri
Keuangan, Menteri Koordinator Perekonomian, dan Menteri ESDM yang dinilai gagal
menjaga stabilitas sektor masing-masing.
Selain itu, mereka juga mengajukan
sembilan tuntutan umum, di antaranya menghentikan penggusuran dan perampasan
tanah, menghentikan Proyek Strategis Nasional yang dinilai rakus tanah,
mendukung hak rakyat Papua atas tanah dan penentuan nasib sendiri, menjamin
pendidikan yang ilmiah dan demokratis, menaikkan upah buruh berdasarkan
kebutuhan hidup layak, menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis dan pejuang
HAM, menolak militerisasi, menghentikan kekerasan terhadap perempuan, serta
mewujudkan industri nasional yang berbasis pada reforma agraria sejati.
Melalui aksi tersebut, PERISAI Bulukumba menegaskan bahwa berbagai persoalan ekonomi dan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini harus menjadi tanggung jawab pemerintah. Mereka menyerukan persatuan berbagai sektor rakyat untuk memperjuangkan perubahan kebijakan yang dianggap lebih berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Berikut 11 Tuntutan Mendesak & 9 Tuntutan Umum PERISAI BULUKUMBA :
11 untutan Mendesak !
- Hentikan kenaikan harga BBM dan harga bahan pokok rakyat
- Segera perbaiki pelemahan nilai tukar rupiah
- Hentikan program MBG dan koperasi Desa/Kelurahan merah putih yang sarat KKN
- Hentikan gelombang PHK massal yang mengancam kesejahteraan buruh
- Cabut UU Polri
- Hentikan pembangunan Batalion Teritorial TNI
- Perbaiki defisit APBN dan hentikan pemborosan anggaran pertahanan serta keamanan
- Naikkan upah untuk kesejahteraan guru honorer secara layak
- Tolak sekolah rakyat, alokasikan dana pendidikan sesuai amanat konstitusi (Mandatory Spending 20%) dan pemerataan akses di daerah 3T
- Transparansi BPI Danantara dan buka mekanisme pelaksanaannya secara gamblang kepada public
- Copot Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, dan Menteri ESDM atas kegagalan stabilitas sektornya
9 Tuntutan Umum
- Hentikan penggusuran dan perampasan tanah di perkotaan maupun di pedesaaan
- Hentikan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang rakus tanah
- Mendukung penuh rakyat papua dalam menentukan hak atas tanah dan nasibnya sendiri
- Hentikan percepatan PTN-BH kenaikan biaya pendidikan dan jamin pendidikan yang ilmiah serta demokratis
- Naikkan upah buruh berdasarakan kebutuhan hidup layak (KHL)
- Hentikan segala bentuk kekerasan, intimidasi, dan kriminalisasi terhadap aktivis dan pejuang HAM
- Hentikan militerisasi dan tegakkan supremasi sipil
- Hentikan kekerasan terhadap kaum perempuan, lawan budaya feodal-patrialkal
- Wujudkan industri nasional yang berbasis pada reforma agraria sejati




Posting Komentar untuk "Menggugat Krisis dari Bulukumba: PERISAI Bulukumba Serukan Persatuan Rakyat Lawan Kebijakan Yang Menindas !"