Petani Lada Loeha Raya Tolak Hadiri Konferensi Transisi Energi, Khawatir Hanya Jadi Legitimasi Agenda Tambang
Ketua Asosiasi Petani Lada Loeha
Raya, Ali Kamri Nawir, memutuskan membatalkan kehadirannya sebagai pembicara
dalam Eastern Indonesia International
Conference on Energy Transition and Critical Minerals yang berlangsung
di Makassar pada 14–16 Juli 2026. Keputusan tersebut diambil setelah melalui
pembahasan bersama masyarakat dan organisasi petani yang menilai forum tersebut
tidak memberikan ruang yang setara bagi komunitas yang terdampak ekspansi
pertambangan.
Semula, Ali dijadwalkan menjadi
salah satu pembicara yang akan menyampaikan kondisi pertanian dan perkebunan
rakyat di Loeha Raya serta ancaman ekspansi pertambangan terhadap ruang hidup
masyarakat di Luwu Timur. Forum tersebut diketahui akan dihadiri oleh berbagai
kalangan, mulai dari pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil,
lembaga donor, kedutaan besar, perusahaan otomotif, hingga perusahaan
pertambangan.
Namun setelah mempelajari komposisi
peserta, penyelenggara, lokasi pelaksanaan, hingga tujuan konferensi,
masyarakat Loeha Raya memutuskan untuk tidak ikut serta.
Menurut Ali, keputusan tersebut
bukan berarti masyarakat menolak dialog ataupun ruang akademik. Sebaliknya,
keputusan itu merupakan sikap politik yang diambil karena adanya persoalan
kepercayaan terhadap forum yang dinilai tidak berada dalam posisi netral.
Persoalkan
Peran Universitas Hasanuddin
Salah satu alasan utama pembatalan
tersebut adalah dipilihnya Universitas Hasanuddin sebagai lokasi
penyelenggaraan konferensi. Bagi masyarakat Loeha Raya, kampus bukan sekadar
tempat berlangsungnya kegiatan ilmiah. Perguruan tinggi memiliki otoritas
akademik yang mampu memberikan legitimasi terhadap suatu agenda. Dalam konteks
konflik agraria yang sedang berlangsung antara masyarakat dengan PT Vale
Indonesia, pemilihan Universitas Hasanuddin dipandang memiliki makna politik
tersendiri.
Ali menilai Universitas Hasanuddin
memiliki hubungan kelembagaan yang cukup erat dengan PT Vale Indonesia.
Hubungan tersebut, menurutnya, membuat masyarakat sulit melihat universitas
sebagai ruang yang benar-benar independen dalam konflik yang sedang mereka
hadapi.
"Ketika perusahaan telah lama membangun hubungan dengan
institusi akademik, sementara masyarakat hanya hadir beberapa jam sebagai
pembicara, maka posisi keduanya tidak pernah benar-benar setara," ujarnya.
Ia menilai bahwa meskipun masyarakat
diberikan kesempatan berbicara, hal tersebut tidak otomatis membuat mereka
memiliki pengaruh terhadap arah pembahasan maupun hasil yang akan dihasilkan
dari konferensi.
Kesempatan
Bicara Bukan Berarti Memiliki Kuasa
Dalam konferensi tersebut, Ali dijadwalkan
akan memaparkan bagaimana petani Loeha Raya mempertahankan kebun lada, sumber
air, dan tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Ia juga akan
menjelaskan keresahan warga setelah PT Vale mengirimkan surat kepada pemerintah
desa terkait rencana pengeboran di Blok Tanamalia. Namun baginya, kesempatan
menyampaikan pengalaman hanya bersifat simbolik apabila masyarakat tidak
memiliki posisi yang sama dalam menentukan arah diskusi.
Perusahaan, menurutnya, memiliki
sumber daya ekonomi, politik, jaringan kelembagaan, serta akses penelitian yang
jauh lebih besar dibanding masyarakat. Sementara komunitas hanya ditempatkan
sebagai pihak yang menyampaikan kesaksian mengenai dampak yang mereka alami.
Setelah itu, pembahasan akan kembali
didominasi oleh pemerintah, akademisi, lembaga internasional, maupun perusahaan
yang berbicara mengenai kebijakan, transisi energi, dekarbonisasi, investasi
hijau, dan berbagai konsep teknis lainnya. Padahal, bagi masyarakat Loeha Raya,
persoalan yang mereka hadapi jauh lebih mendasar.
"Bagi kami, ini bukan soal transisi energi atau mineral
kritis. Ini soal apakah kebun kami tetap ada, apakah sumber air kami tetap
mengalir, dan apakah anak cucu kami masih memiliki ruang hidup," demikian pandangan yang disampaikan Ali.
Khawatir
Kehadiran Komunitas Dijadikan Legitimasi
Ali juga mengungkapkan
kekhawatirannya bahwa kehadiran masyarakat dalam forum internasional justru
akan digunakan sebagai bukti bahwa penyelenggara telah melibatkan komunitas terdampak.
Nama masyarakat dapat dicantumkan
dalam daftar pembicara, dokumentasi, publikasi, maupun konferensi pers sebagai
simbol partisipasi. Namun menurutnya, keterlibatan semacam itu tidak berarti
masyarakat memiliki kesempatan menentukan agenda, menyusun rekomendasi, ataupun
meminta pertanggungjawaban kepada perusahaan. Ia menilai pola seperti ini hanya
menghasilkan partisipasi yang bersifat simbolik.
"Masyarakat hadir, berbicara, lalu pulang. Sementara
keputusan tetap berada di tangan pihak-pihak yang sejak awal memiliki
kekuasaan," ujarnya.
Karena itu, ia tidak ingin kehadiran
masyarakat Loeha Raya dimanfaatkan untuk memberikan legitimasi terhadap sebuah
forum yang menurutnya belum tentu berpihak pada kepentingan warga. Hal ini dikarenakan
dia pernah melalui hal serupa. Dimana kehadirannya dalam sebuah forum multisector
malah diklaim sebagai sikap menyetujui aktivitas tambang atau perbaikan pola
pertambangan oleh PT. Vale.
Persoalan
Utamanya Adalah Kepercayaan
Bagi masyarakat Loeha Raya,
persoalan terbesar bukan sekadar apakah konferensi terbuka atau tidak,
melainkan apakah ruang tersebut benar-benar dapat dipercaya.
Ali menegaskan bahwa kepercayaan
tidak dibangun hanya dengan memberikan mikrofon kepada masyarakat. Kepercayaan
harus diwujudkan melalui keterbukaan mengenai hubungan kelembagaan, keberanian
mengakui adanya ketimpangan kekuasaan, serta komitmen meminta
pertanggungjawaban kepada pihak yang memiliki kekuatan lebih besar.
Hingga saat ini, menurutnya,
masyarakat belum pernah memperoleh penjelasan yang memadai mengenai hubungan
antara Universitas Hasanuddin dengan PT Vale maupun langkah-langkah yang
dilakukan universitas untuk memastikan independensinya dalam konflik tersebut. Karena
itulah, masyarakat memilih untuk tidak hadir.
Menolak
Partisipasi Semu
Ali menegaskan terdapat perbedaan
besar antara hadir, berpartisipasi, dan memiliki pengaruh. Hadir berarti
sekadar berada di dalam forum. Berpartisipasi berarti diberi kesempatan
berbicara. Sementara memiliki pengaruh berarti mampu mengubah arah pembahasan,
menentukan rekomendasi, bahkan menolak hasil yang tidak sesuai dengan
kepentingan masyarakat.
Menurutnya, komunitas terdampak
sering kali hanya diposisikan sebagai penyedia cerita mengenai kerusakan
lingkungan dan penderitaan warga. Setelah itu, berbagai aktor institusional
mengambil alih pembahasan mengenai solusi, standar keberlanjutan, hingga
deklarasi bersama.
Model seperti itu dinilai hanya
menjadikan masyarakat sebagai pelengkap narasi "transisi energi yang adil", tanpa benar-benar memberikan
ruang bagi mereka untuk menentukan masa depan wilayahnya sendiri.
Tidak
Hadir Sebagai Bentuk Sikap Politik
Ali menegaskan bahwa pembatalan
kehadirannya bukan merupakan penolakan terhadap ilmu pengetahuan ataupun dunia
akademik. Sebaliknya, keputusan tersebut merupakan bentuk sikap politik untuk
menjaga integritas perjuangan masyarakat Loeha Raya dalam mempertahankan tanah,
kebun, sumber air, dan ruang hidup mereka dari ancaman ekspansi pertambangan.
Menurutnya, masyarakat tidak menolak
dialog. Yang mereka tolak adalah dialog yang sejak awal tidak menempatkan
komunitas dalam posisi yang setara.
"Kami tidak menolak universitas. Kami meminta agar
universitas membuktikan keberpihakannya kepada kebenaran, keselamatan warga,
dan keadilan ekologis."
Ia menambahkan bahwa ukuran
keberhasilan sebuah forum internasional bukan ditentukan oleh banyaknya negara
yang hadir ataupun besarnya nama para pembicara. Bagi masyarakat Loeha Raya,
ukuran yang paling penting adalah apakah forum tersebut benar-benar memperkuat
kemampuan warga mempertahankan tanah, air, kebun, dan masa depan mereka.
Selama pertanyaan tersebut belum memperoleh
jawaban yang jelas, masyarakat Loeha Raya memilih berdiri di luar forum dan
menyampaikan sikapnya secara terbuka. Mereka menegaskan tidak menolak dialog,
tetapi menolak jika kehadiran komunitas hanya dijadikan legitimasi bagi agenda
yang tetap dikendalikan oleh pihak-pihak yang mendukung ekspansi pertambangan.




Posting Komentar untuk "Petani Lada Loeha Raya Tolak Hadiri Konferensi Transisi Energi, Khawatir Hanya Jadi Legitimasi Agenda Tambang"