Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perebutan Makna May Day : Tanggapan Kritis Atas Logika Kehadiran & Bertarung di Ruang yang Tidak Pernah Bersih !

Penulis : Muhammad Daffa Aprilio



Sebagai seorang mahasiswa, suatu posisi sosial yang dewasa kini membeli pendidikan tinggi yang tengah saya emban sebagai jasa yang kian hari kian mencekik kondisi dapur keluarga saya, agar tetap dapat mendengar uraian lisan dari tenaga pendidik, berdiskusi dengan tenaga pendidik, dan berbagai kegiatan yang wajib lainnya bagi seorang mahasiswa. Merupakan suatu posisi sosial yang juga secara penuh diarahkan menuju pasar tenaga kerja. Sampai-sampai dulu saya mendapatkan pesan dari tenaga pendidik bahwa pertarungan untuk mendapatkan hubungan kerja dalam bidang yang linear dengan jurusan merupakan pertarungan yang berat sekali. Dan ketika saya melihat berbagai mahasiswa yang telah lulus, kini ritme kehidupan mereka pun sudah tidak lagi berjalan dalam suatu cita-cita untuk memajukan kehidupan berbangsa, karena terjepit dinamika kehidupannya yang kini telah menjadi seorang pekerja. Itu pun yang cukup beruntung, lantaran banyak lagi yang justru stagnan menjadi bagian dari kelompok pencari pekerjaan (tenaga kerja cadangan) yang sedang menunggu gerbang rezekinya dibuka.

 

Sehingga, dewasa kini, saya dan seluruh pelajar di negara kita merupakan calon tenaga kerja yang cenderung akan diupah kecil. Antara lain karena negara kita kian hari kian menjadi tempat bercokolnya kapital-kapital asing, dan dengan begitu kian jauh dari kedaulatan dalam berbagai bidang, tidak hanya politik, namun juga ekonomi.

 

Bagi pengetahuan saya, tenaga sosial-produksi dalam konteks Indonesia tersebar dalam berbagai corak hubungan dan cara mencari sepeser rezeki. Tenaga sosial-produksi tidak hanya berada di pabrik-pabrik, kantor-kantor, maupun tidak hanya usaha-usaha kecil seperti petani gurem, nelayan, pedagang kaki lima, ataupun bahkan prekariat seperti ojek online dan lain sebagainya. Namun, terkandung juga di dalam berbagai corak kehidupan yang masih memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, seperti masyarakat adat maupun bahkan masyarakat nomaden yang bermukim di hutan-hutan Indonesia. Walau kini kehidupan masyarakat adat dan masyarakat pemukim hutan kian diopresi oleh negara kita sendiri, dan kian hari mulai perlahan-lahan harus bersaing pula di pasar yang penuh persaingan yang dingin.

 

Mungkin masyarakat adat dan masyarakat pemukim hutan juga memiliki imajinasi yang berbeda mengenai kemajuan dan kekayaan, walau kini sudah mulai terpaksa oleh kehidupan bernegara menuju satu arah kemajuan, yakni negara yang dieksploitasi oleh kapital asing itu sendiri. Namun justru itu, berbagai corak kehidupan di tanah air Indonesia yang kaya tengah mengalami dominasi dan eksploitasi menuju arah yang ditentukan oleh negara. Sehingga, dominasi yang terjadi di negara kita merupakan kondisi material dari spektrum yang luas tenaga-tenaga sosial-produksi itu sendiri. Maka, kondisi yang dimiskinkan bukan hanya milik kelas buruh saja maupun kelompok sosial yang terikat oleh hubungan upah, namun berbagai corak kehidupan yang berada di tanah air kita dewasa kini tengah dimiskinkan.

 

Titik Berangkat: Menanggapi Narasi KPBI dan SGBN

Berangkat dari posisi pengetahuan yang seperti itu, saya akan menanggapi uraian tertulis dari KPBI dan SGBN yang diposting di Instagram. Tanpa mereduksi argumentasi bahwa kehadiran bukan berarti legitimasi, ruang sangat bergantung pada bagaimana penggunaannya, dan negara bukan merupakan suatu kekuatan monolitik yang kaku, saya mengakui kebenaran argumentasi tersebut. Saya juga mendukung gerakan KPBI dan SGBN yang tetap menjaga keteguhan perjuangan, sikap kritis, bahkan saat berada dalam kondisi yang sulit dan terkepung.

 

Akan tetapi, saya mengajukan argumentasi bahwa dalam uraian singkat tersebut terkandung (imanen) suatu alur logis yang justru mereduksi ruang dan upaya perebutan makna May Day menjadi sempit, bahkan menegasikan berbagai ruang lainnya, serta berbagai upaya perebutan makna May Day yang akan berlangsung secara luas. Serta terdapat alur logis yang justru memiliki ketegangan internal.

 

“Ketika sebagian serikat memilih jalur kompromi, ada kecenderungan untuk menampilkan wajah buruh yang ‘bertanggung jawab’ dan tidak konfrontatif. Tuntutan yang lebih tajam dilunakkan agar selaras dengan agenda stabilitas pemerintah. Kalau serikat-serikat kiri tidak hadir, gambaran tentang buruh akan semakin didominasi versi yang sudah jinak itu.” terang postingan tersebut.

 

Membongkar Logika Kehadiran dan Absen

Tentu sorotan media akan sangat kencang merespons kampanye May Day bersama pemerintah. Dengan begitu, cukup besar kemungkinan bahwa arus informasi utama akan membangun framing buruh yang telah satu baris (juga kompromis) dengan pemerintah. Sehingga, menjadi ruang bagi serikat-serikat kiri untuk menindak tegas dengan sikap kritisnya ruang yang berhadap-hadapan langsung dengan pemerintah itu sendiri. Namun, sebagaimana dituliskan bahwa “jika serikat-serikat kiri tidak hadir maka gambaran buruh akan semakin didominasi versi yang sudah lebih jinak”, sehingga secara konsekuen alur tersebut menyiratkan bahwa tidak ada lagi ruang lain yang dapat mengampanyekan buruh yang kritis, tegas, dan tidak jinak.

 

Padahal, ruang yang akan dipergunakan untuk May Day sangatlah luas dan akan dihadiri oleh tenaga-tenaga sosial-produksi dari spektrum yang luas yang juga sedang merebut makna May Day itu sendiri. Pun jika sorotan arus informasi utama membelokkan narasi kepada kampanye bersama pemerintah, apakah kemudian realitas gerakan May Day dalam ruang-ruang lainnya yang luas ditiadakan hanya karena tidak disiarkan oleh media arus utama?

 

Ruang-ruang lain tersebut justru memungkinkan penjaringan baru di antara basis-basis gerakan tenaga sosial-produksi itu sendiri, bahkan membuka kemungkinan lompatan kualitatif dari gerakan itu. Dengan demikian, jika kehadiran dapat dipergunakan secara aktif, maka absen pun semestinya dapat dipergunakan secara aktif, tergantung bagaimana strategi tersebut dijalankan.

 

“Bahkan ruang yang disediakan negara bisa berubah menjadi arena tekanan terhadap negara itu sendiri. Tuntutan yang disuarakan di depan publik, di hadapan media, di tengah massa buruh yang luas bisa memaksa pemerintah untuk merespons, meskipun respons itu sering tidak memadai.”

 

Saya mengakui bahwa, benar ruang bersama pemerintah itu cukup krusial untuk suatu upaya intervensi politik dari serikat-serikat kiri, karena berada di jantung kekuasaan dan sedang disorot oleh media arus utama. Akan tetapi, teks singkat tersebut juga mengakui setelahnya bahwa kehadiran di istana itu berisiko, dan juga sebagaimana kutipan di atas mengakui bahwa responnya sering tidak memadai. Kemudian, selanjutnya diterangkan;

 

“Tapi menarik diri juga bukan tanpa risiko. Isolasi mempersempit basis, membatasi jangkauan, pengaruh, dan perlahan melemahkan kapasitas gerakan untuk mempengaruhi situasi yang lebih luas.”

 

Namun, lebih krusial suatu penentangan tegas dan kritis yang seringnya tidak direspon secara memadai. Atau justru ruang lain yang memungkinkan suatu kolektivisasi dari spektrum luas tenaga-tenaga sosial-produksi itu sendiri? Sehingga, pertanyaannya adalah jika kehadiran dapat dipergunakan secara aktif, mengapa menarik diri atau absen, secara logis dalam teks tersebut tidak dapat dipergunakan secara aktif? Sehingga, pernyataan mengenai “mempergunakan ruang” justru bertegangan dengan pernyataan “risiko-risiko menarik diri atau absen”

 

Makna Kemenangan dan Perebutan Ruang

“Dan kemenangan-kemenangan konkret yang diraih lewat tekanan dalam ruang politik yang ada—perbaikan upah, perlindungan kerja, akses layanan sosial—bukan hanya berdampak pada kondisi material, tetapi juga membangun kepercayaan diri kolektif.”

 

Sebagai serikat-serikat yang tetap teguh dan terkepung di saat yang sama, saya sangat terinspirasi oleh KPBI dan SGBN yang memiliki harapan mengenai kehadirannya. Akan tetapi, apakah kemenangan konkret hanya terbatas pada perubahan kondisi material dari relasi kerja? Bukankah penjaringan basis yang lebih luas dari spektrum tenaga sosial-produksi juga merupakan bentuk kemenangan konkret?

 

Dalam penutup teks tersebut disampaikan bahwa di bawah kekuasaan yang memusuhi kepentingan kelas pekerja tidak ada ruang yang sepenuhnya bersih atau netral, namun bukan berarti semua ruang harus ditinggalkan. Ruang-ruang itu perlu dimasuki, diperebutkan, dan digunakan untuk mendorong tuntutan, menantang narasi dominan, dan membangun tekanan yang nyata. Namun demikian, jika hal tersebut diakui, mengapa ruang-ruang lain yang juga memungkinkan kolektivisasi dan tekanan nyata justru tidak diposisikan setara sebagai arena perjuangan?

 

Sekali lagi, saya sebagai calon tenaga kerja sangat terinspirasi oleh KPBI dan SGBN yang memiliki keteguhan, ketegasan, serta sikap kritis, bahkan di saat terkepung dan terdominasi. Akan tetapi, pengetahuan saya yang masih harus dikembangkan ini menghadirkan berbagai argumentasi dan pertanyaan kritis terhadap teks tersebut. Pada akhirnya, setiap argumentasi dan kesimpulan merupakan refleksi realitas yang telah melalui proses dalam kerangka pengetahuan tertentu, sehingga secara imanen memperlihatkan posisi, bias, dan cara pandang yang membentuknya.

Posting Komentar untuk "Perebutan Makna May Day : Tanggapan Kritis Atas Logika Kehadiran & Bertarung di Ruang yang Tidak Pernah Bersih !"