Perebutan Makna May Day : Tanggapan Kritis Atas Logika Kehadiran & Bertarung di Ruang yang Tidak Pernah Bersih !
Sebagai seorang mahasiswa,
suatu posisi sosial yang dewasa kini membeli pendidikan tinggi yang tengah saya
emban sebagai jasa yang kian hari kian mencekik kondisi dapur keluarga saya,
agar tetap dapat mendengar uraian lisan dari tenaga pendidik, berdiskusi dengan
tenaga pendidik, dan berbagai kegiatan yang wajib lainnya bagi seorang
mahasiswa. Merupakan suatu posisi sosial yang juga secara penuh diarahkan
menuju pasar tenaga kerja. Sampai-sampai dulu saya mendapatkan pesan dari
tenaga pendidik bahwa pertarungan untuk mendapatkan hubungan kerja dalam bidang
yang linear dengan jurusan merupakan pertarungan yang berat sekali. Dan ketika
saya melihat berbagai mahasiswa yang telah lulus, kini ritme kehidupan mereka
pun sudah tidak lagi berjalan dalam suatu cita-cita untuk memajukan kehidupan
berbangsa, karena terjepit dinamika kehidupannya yang kini telah menjadi
seorang pekerja. Itu pun yang cukup beruntung, lantaran banyak lagi yang justru
stagnan menjadi bagian dari kelompok pencari pekerjaan (tenaga kerja cadangan)
yang sedang menunggu gerbang rezekinya dibuka.
Sehingga, dewasa kini,
saya dan seluruh pelajar di negara kita merupakan calon tenaga kerja yang
cenderung akan diupah kecil. Antara lain karena negara kita kian hari kian
menjadi tempat bercokolnya kapital-kapital asing, dan dengan begitu kian jauh
dari kedaulatan dalam berbagai bidang, tidak hanya politik, namun juga ekonomi.
Bagi pengetahuan saya,
tenaga sosial-produksi dalam konteks Indonesia tersebar dalam berbagai corak
hubungan dan cara mencari sepeser rezeki. Tenaga sosial-produksi tidak hanya
berada di pabrik-pabrik, kantor-kantor, maupun tidak hanya usaha-usaha kecil
seperti petani gurem, nelayan, pedagang kaki lima, ataupun bahkan prekariat
seperti ojek online dan lain sebagainya. Namun, terkandung juga di dalam
berbagai corak kehidupan yang masih memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri,
seperti masyarakat adat maupun bahkan masyarakat nomaden yang bermukim di
hutan-hutan Indonesia. Walau kini kehidupan masyarakat adat dan masyarakat
pemukim hutan kian diopresi oleh negara kita sendiri, dan kian hari mulai
perlahan-lahan harus bersaing pula di pasar yang penuh persaingan yang dingin.
Mungkin masyarakat adat
dan masyarakat pemukim hutan juga memiliki imajinasi yang berbeda mengenai
kemajuan dan kekayaan, walau kini sudah mulai terpaksa oleh kehidupan bernegara
menuju satu arah kemajuan, yakni negara yang dieksploitasi oleh kapital asing
itu sendiri. Namun justru itu, berbagai corak kehidupan di tanah air Indonesia
yang kaya tengah mengalami dominasi dan eksploitasi menuju arah yang ditentukan
oleh negara. Sehingga, dominasi yang terjadi di negara kita merupakan kondisi
material dari spektrum yang luas tenaga-tenaga sosial-produksi itu sendiri.
Maka, kondisi yang dimiskinkan bukan hanya milik kelas buruh saja maupun
kelompok sosial yang terikat oleh hubungan upah, namun berbagai corak kehidupan
yang berada di tanah air kita dewasa kini tengah dimiskinkan.
Titik Berangkat:
Menanggapi Narasi KPBI dan SGBN
Berangkat dari posisi
pengetahuan yang seperti itu, saya akan menanggapi uraian tertulis dari KPBI
dan SGBN yang diposting di Instagram. Tanpa mereduksi argumentasi bahwa
kehadiran bukan berarti legitimasi, ruang sangat bergantung pada bagaimana
penggunaannya, dan negara bukan merupakan suatu kekuatan monolitik yang kaku,
saya mengakui kebenaran argumentasi tersebut. Saya juga mendukung gerakan KPBI
dan SGBN yang tetap menjaga keteguhan perjuangan, sikap kritis, bahkan saat
berada dalam kondisi yang sulit dan terkepung.
Akan tetapi, saya
mengajukan argumentasi bahwa dalam uraian singkat tersebut terkandung (imanen)
suatu alur logis yang justru mereduksi ruang dan upaya perebutan makna May Day
menjadi sempit, bahkan menegasikan berbagai ruang lainnya, serta berbagai upaya
perebutan makna May Day yang akan berlangsung secara luas. Serta terdapat alur
logis yang justru memiliki ketegangan internal.
“Ketika sebagian serikat memilih jalur kompromi,
ada kecenderungan untuk menampilkan wajah buruh yang ‘bertanggung jawab’ dan
tidak konfrontatif. Tuntutan yang lebih tajam dilunakkan agar selaras dengan
agenda stabilitas pemerintah. Kalau serikat-serikat kiri tidak hadir, gambaran
tentang buruh akan semakin didominasi versi yang sudah jinak itu.” terang postingan tersebut.
Membongkar Logika
Kehadiran dan Absen
Tentu sorotan media akan
sangat kencang merespons kampanye May Day bersama pemerintah. Dengan begitu,
cukup besar kemungkinan bahwa arus informasi utama akan membangun framing buruh
yang telah satu baris (juga kompromis) dengan pemerintah. Sehingga, menjadi
ruang bagi serikat-serikat kiri untuk menindak tegas dengan sikap kritisnya
ruang yang berhadap-hadapan langsung dengan pemerintah itu sendiri. Namun,
sebagaimana dituliskan bahwa “jika
serikat-serikat kiri tidak hadir maka gambaran buruh akan semakin didominasi
versi yang sudah lebih jinak”, sehingga secara konsekuen alur tersebut
menyiratkan bahwa tidak ada lagi ruang lain yang dapat mengampanyekan buruh
yang kritis, tegas, dan tidak jinak.
Padahal, ruang yang akan
dipergunakan untuk May Day sangatlah luas dan akan dihadiri oleh tenaga-tenaga
sosial-produksi dari spektrum yang luas yang juga sedang merebut makna May Day
itu sendiri. Pun jika sorotan arus informasi utama membelokkan narasi kepada
kampanye bersama pemerintah, apakah kemudian realitas gerakan May Day dalam
ruang-ruang lainnya yang luas ditiadakan hanya karena tidak disiarkan oleh
media arus utama?
Ruang-ruang lain
tersebut justru memungkinkan penjaringan baru di antara basis-basis gerakan
tenaga sosial-produksi itu sendiri, bahkan membuka kemungkinan lompatan
kualitatif dari gerakan itu. Dengan demikian, jika kehadiran dapat dipergunakan
secara aktif, maka absen pun semestinya dapat dipergunakan secara aktif,
tergantung bagaimana strategi tersebut dijalankan.
“Bahkan ruang yang disediakan negara bisa
berubah menjadi arena tekanan terhadap negara itu sendiri. Tuntutan yang
disuarakan di depan publik, di hadapan media, di tengah massa buruh yang luas
bisa memaksa pemerintah untuk merespons, meskipun respons itu sering tidak
memadai.”
Saya mengakui bahwa,
benar ruang bersama pemerintah itu cukup krusial untuk suatu upaya intervensi
politik dari serikat-serikat kiri, karena berada di jantung kekuasaan dan
sedang disorot oleh media arus utama. Akan tetapi, teks singkat tersebut juga
mengakui setelahnya bahwa kehadiran di istana itu berisiko, dan juga
sebagaimana kutipan di atas mengakui bahwa responnya sering tidak memadai.
Kemudian, selanjutnya diterangkan;
“Tapi menarik diri juga bukan tanpa risiko.
Isolasi mempersempit basis, membatasi jangkauan, pengaruh, dan perlahan
melemahkan kapasitas gerakan untuk mempengaruhi situasi yang lebih luas.”
Namun, lebih krusial
suatu penentangan tegas dan kritis yang seringnya tidak direspon secara
memadai. Atau justru ruang lain yang memungkinkan suatu kolektivisasi dari
spektrum luas tenaga-tenaga sosial-produksi itu sendiri? Sehingga,
pertanyaannya adalah jika kehadiran dapat dipergunakan secara aktif, mengapa
menarik diri atau absen, secara logis dalam teks tersebut tidak dapat
dipergunakan secara aktif? Sehingga, pernyataan mengenai “mempergunakan ruang” justru bertegangan dengan pernyataan “risiko-risiko menarik diri atau absen”.
Makna Kemenangan dan
Perebutan Ruang
“Dan kemenangan-kemenangan konkret yang diraih
lewat tekanan dalam ruang politik yang ada—perbaikan upah, perlindungan kerja,
akses layanan sosial—bukan hanya berdampak pada kondisi material, tetapi juga
membangun kepercayaan diri kolektif.”
Sebagai serikat-serikat
yang tetap teguh dan terkepung di saat yang sama, saya sangat terinspirasi oleh
KPBI dan SGBN yang memiliki harapan mengenai kehadirannya. Akan tetapi, apakah
kemenangan konkret hanya terbatas pada perubahan kondisi material dari relasi
kerja? Bukankah penjaringan basis yang lebih luas dari spektrum tenaga
sosial-produksi juga merupakan bentuk kemenangan konkret?
Dalam penutup teks
tersebut disampaikan bahwa di bawah kekuasaan yang memusuhi kepentingan kelas
pekerja tidak ada ruang yang sepenuhnya bersih atau netral, namun bukan berarti
semua ruang harus ditinggalkan. Ruang-ruang itu perlu dimasuki, diperebutkan,
dan digunakan untuk mendorong tuntutan, menantang narasi dominan, dan membangun
tekanan yang nyata. Namun demikian, jika hal tersebut diakui, mengapa
ruang-ruang lain yang juga memungkinkan kolektivisasi dan tekanan nyata justru
tidak diposisikan setara sebagai arena perjuangan?
Sekali lagi, saya
sebagai calon tenaga kerja sangat terinspirasi oleh KPBI dan SGBN yang memiliki
keteguhan, ketegasan, serta sikap kritis, bahkan di saat terkepung dan
terdominasi. Akan tetapi, pengetahuan saya yang masih harus dikembangkan ini
menghadirkan berbagai argumentasi dan pertanyaan kritis terhadap teks tersebut.
Pada akhirnya, setiap argumentasi dan kesimpulan merupakan refleksi realitas
yang telah melalui proses dalam kerangka pengetahuan tertentu, sehingga secara
imanen memperlihatkan posisi, bias, dan cara pandang yang membentuknya.




Posting Komentar untuk "Perebutan Makna May Day : Tanggapan Kritis Atas Logika Kehadiran & Bertarung di Ruang yang Tidak Pernah Bersih !"