Mahasiswa Bombana Desak Evaluasi Total Beasiswa, Empat Rekomendasi Jadi Tindak Lanjut
Rumbia, 25 September 2026 — Persoalan Beasiswa Bombana 2026 kembali menjadi sorotan.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam HIPMAB Kolaka bersama mahasiswa asal
Bombana menggelar aksi bertajuk “Bongkar dan Evaluasi Total Beasiswa
Bombana” dengan mendatangi Kantor Bupati Bombana di Rumbia, Jumat (25/9). Aksi
tersebut dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa atas persoalan
pengelolaan Beasiswa Bombana 2026. Massa meminta pemerintah daerah memberikan
penjelasan secara terbuka sekaligus memastikan adanya evaluasi terhadap
mekanisme beasiswa yang dinilai perlu diperjelas.
Bagi mahasiswa, beasiswa bukan
sekadar program bantuan pemerintah. Bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan
di perguruan tinggi, keberadaan beasiswa berkaitan langsung dengan
keberlanjutan kuliah, biaya hidup, hingga kemampuan untuk menyelesaikan
pendidikan.
Karena itu, mahasiswa menilai
persoalan yang muncul dalam program Beasiswa Bombana 2026 tidak cukup hanya
diselesaikan melalui komunikasi internal pemerintah. Mereka meminta adanya
keterbukaan, evaluasi, serta tindak lanjut yang dapat dipertanggungjawabkan.
Datang
untuk Bertemu Bupati
Massa aksi mendatangi Kantor Bupati
Bombana dengan harapan dapat bertemu langsung dengan Bupati Bombana. Pertemuan
tersebut diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan keresahan
sekaligus memperoleh penjelasan secara langsung dari pemerintah daerah. Namun,
harapan tersebut tidak terwujud. Bupati Bombana tidak menemui massa secara
langsung.
Ketidakhadiran kepala daerah menjadi
salah satu catatan bagi peserta aksi. Bagi mahasiswa, persoalan tersebut bukan
semata-mata mengenai kehadiran seorang pejabat dalam aksi demonstrasi,
melainkan mengenai bagaimana pemerintah merespons aspirasi yang berkaitan
dengan akses pendidikan masyarakatnya.
Koordinator Lapangan aksi, Rinal
Atma Negara, mengatakan mahasiswa datang bukan untuk mencari keributan.
Mereka membawa persoalan yang menurutnya membutuhkan perhatian serius
pemerintah daerah.
“Kami datang bukan untuk mencari keributan. Kami datang
membawa aspirasi mahasiswa dan berharap dapat bertemu langsung dengan Bupati
Bombana. Ketika beliau tidak menemui massa aksi, tentu ada rasa kecewa. Namun,
kekecewaan itu tidak akan membuat kami berhenti mengawal persoalan ini.”
Menurut Rinal, tidak ditemuinya
massa oleh Bupati tidak akan menghentikan proses pengawalan terhadap persoalan
Beasiswa Bombana. Mahasiswa tetap akan memantau perkembangan pembahasan dan
memastikan aspirasi yang telah disampaikan tidak berhenti sebagai tuntutan di
ruang publik.
Beasiswa
Menyangkut Masa Depan Mahasiswa
Ketua Umum HIPMAB Kolaka periode
2026–2027, Kaswan, mengatakan pihaknya tetap menghargai proses dialog
yang berlangsung antara mahasiswa dan pemerintah daerah. Namun, ketidakhadiran
Bupati Bombana tetap menjadi catatan bagi HIPMAB Kolaka.
“Kami berharap Bupati dapat mendengar langsung keresahan
mahasiswa. Persoalan beasiswa ini menyangkut pendidikan dan masa depan
mahasiswa Bombana. Kami menghargai proses yang sudah berjalan, tetapi kami juga
akan memastikan setiap hasil pembahasan benar-benar ditindaklanjuti.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa
persoalan Beasiswa Bombana tidak berhenti pada persoalan siapa yang menerima
atau tidak menerima bantuan. Di balik proses seleksi dan penyaluran terdapat
mahasiswa yang menggantungkan keberlanjutan pendidikannya pada dukungan
pembiayaan.
Karena itu, mahasiswa mendorong agar
pengelolaan beasiswa dilakukan melalui mekanisme yang jelas, transparan, dan
dapat dipertanggungjawabkan. Keterbukaan menjadi penting terutama ketika muncul
persoalan terkait proses seleksi, pemotongan beasiswa maupun kerja sama antara
pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Empat
Rekomendasi untuk Pemerintah Daerah
Meski tidak memperoleh pertemuan
langsung dengan Bupati Bombana, aksi tersebut tetap menghasilkan proses dialog
antara perwakilan mahasiswa dan pemerintah daerah. Hasil pembahasan kemudian
dituangkan dalam Rekomendasi Aspirasi HIPMAB-Kolaka yang ditandatangani
oleh perwakilan mahasiswa dan unsur Pemerintah Kabupaten Bombana pada 25
September 2026.
Dokumen tersebut memuat empat poin
tindak lanjut :
Pertama, mendorong perubahan atau revisi kerja sama Pemerintah
Kabupaten Bombana dengan Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka,
khususnya berkaitan dengan persoalan pemotongan beasiswa.
Kedua, mahasiswa yang terdampak pada tahap pertama didorong
mendapatkan prioritas pada penerimaan tahap kedua, dengan tetap
mengikuti ketentuan dan mekanisme seleksi yang berlaku.
Ketiga, pemerintah daerah didorong untuk menyampaikan surat
kepada Inspektorat Daerah guna melakukan audit internal terhadap proses seleksi
Beasiswa Bombana.
Keempat, terdapat rekomendasi untuk melakukan kajian dan revisi
terhadap Peraturan Bupati Bombana Nomor 15 Tahun 2025, dengan melibatkan
unsur mahasiswa dalam proses pembahasannya.
Empat rekomendasi tersebut menjadi
hasil konkret dari aksi mahasiswa. Namun, bagi massa aksi, dokumen rekomendasi
bukanlah tujuan akhir. Justru setelah rekomendasi ditandatangani, tahap
pengawalan berikutnya dimulai.
Jangan
Berhenti di Atas Kertas
Bagi HIPMAB Kolaka, persoalan utama
setelah aksi adalah memastikan seluruh rekomendasi tersebut benar-benar
dilaksanakan. Audit internal, misalnya, tidak hanya penting untuk mengetahui
apakah proses seleksi telah berjalan sesuai ketentuan, tetapi juga untuk
memberikan kejelasan kepada mahasiswa mengenai mekanisme yang digunakan
pemerintah dalam menentukan penerima beasiswa.
Begitu pula dengan rencana revisi
kerja sama Pemkab Bombana dan USN Kolaka. Jika terdapat persoalan dalam
pelaksanaan kerja sama, mahasiswa meminta agar evaluasi tidak berhenti pada
pembahasan administratif, tetapi menghasilkan perubahan yang memberikan
kepastian terhadap penerima beasiswa.
Pelibatan mahasiswa dalam kajian dan
revisi Perbup Nomor 15 Tahun 2025 juga menjadi bagian penting dari rekomendasi
tersebut. Mahasiswa sebagai kelompok yang secara langsung menerima dampak dari
kebijakan beasiswa memiliki kepentingan untuk mengetahui sekaligus memberikan
masukan terhadap aturan yang mengatur program tersebut.
Dengan demikian, persoalan Beasiswa
Bombana 2026 tidak semestinya berakhir setelah aksi dibubarkan. Sebaliknya,
rekomendasi yang telah dihasilkan harus menjadi dasar untuk membuka proses
evaluasi yang lebih transparan.
Aksi
Berakhir, Pengawalan Berlanjut
Aksi mahasiswa di Kantor Bupati
Bombana pada akhirnya memperlihatkan bahwa persoalan beasiswa telah berkembang
menjadi isu yang membutuhkan tindak lanjut pemerintah daerah. Mahasiswa telah
menyampaikan aspirasi, pemerintah daerah telah menerima tuntutan, dan sebuah
dokumen rekomendasi telah dihasilkan.
Kini, perhatian bergeser pada pelaksanaan.
Apakah audit internal benar-benar dilakukan? Apakah persoalan yang muncul dalam
proses seleksi dapat dijelaskan secara terbuka? Apakah mahasiswa yang terdampak
memperoleh penyelesaian sesuai rekomendasi? Dan apakah Perbup Nomor 15 Tahun
2025 akan benar-benar dikaji dengan melibatkan mahasiswa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
menjadi bagian dari pekerjaan berikutnya. Bagi HIPMAB Kolaka dan mahasiswa
Bombana, aksi 25 September bukanlah garis akhir. Aksi tersebut justru menjadi
titik awal untuk mengawal proses evaluasi dan memastikan keputusan pemerintah
tidak berhenti dalam bentuk dokumen.
“Kami datang untuk menyampaikan suara. Kami kecewa karena
tidak ditemui. Namun kami tidak akan berhenti mengawal.”
Kalimat tersebut menjadi penutup
dari aksi sekaligus penegasan bahwa perjuangan mahasiswa atas Beasiswa Bombana
2026 masih berlanjut. Sebab bagi mahasiswa, keberadaan beasiswa bukan hanya
persoalan bantuan pendidikan. Ia menyangkut kesempatan untuk terus berkuliah,
menyelesaikan pendidikan, dan membangun masa depan. Karena itu, rekomendasi
yang telah disepakati kini menunggu satu hal yang paling penting: tindak
lanjut nyata dari Pemerintah Kabupaten Bombana.




Posting Komentar untuk "Mahasiswa Bombana Desak Evaluasi Total Beasiswa, Empat Rekomendasi Jadi Tindak Lanjut"