Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Siapa yang Diuntungkan dari Utang ? Lawan Eksploitasi IMF dan Bank Dunia

Dipublikasikan Oleh : People Over Profit (3 Oktober 2026)


Dominasi kolonial mungkin telah berakhir secara formal, tetapi sistem kekuasaan yang menopangnya belum benar-benar hilang. Di berbagai negara Afrika dan negara-negara berkembang dibelahan dunia selatan atau yang sering disebut dengan negara Global South, kemerdekaan politik tidak serta-merta berarti kedaulatan ekonomi. Setelah para penguasa kolonial pergi, persoalan mendasar tetap sama: siapa yang menguasai kekayaan, sumber daya alam, dan menentukan arah pembangunan?

 

Ketika negara-negara yang baru merdeka berusaha mengambil kendali atas perekonomian mereka, mereka berhadapan dengan tatanan ekonomi internasional yang telah dibentuk berdasarkan kepentingan modal global. Dalam konteks inilah Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia memainkan peran penting.

 

Sejak gelombang dekolonisasi pada 1960-an, IMF semakin aktif di berbagai negara Afrika. Pinjaman dan program penyesuaian struktural atau Structural Adjustment Programmes (SAP) kemudian menjadi salah satu instrumen utama yang digunakan untuk mendorong perubahan kebijakan ekonomi. Di banyak negara, program tersebut dikaitkan dengan liberalisasi ekonomi, pembukaan ruang yang lebih besar bagi modal asing, pengurangan belanja publik, privatisasi, serta kebijakan penghematan yang dampaknya dirasakan langsung oleh rakyat pekerja.

 

Pengalaman tersebut melahirkan kesadaran bahwa kemerdekaan politik tidak cukup tanpa kedaulatan ekonomi. Perlawanan terhadap utang, privatisasi, penghematan anggaran, liberalisasi ekonomi, dan ketergantungan terhadap modal asing kemudian menjadi bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk melawan bentuk-bentuk kontrol ekonomi yang dianggap sebagai kelanjutan dari hubungan kolonial.

 

Dari berbagai pengalaman tersebut, tumbuh solidaritas lintas negara. Perjuangan buruh, petani, masyarakat adat, perempuan, migran, pembela lingkungan, dan kaum muda mulai dipertemukan dalam satu kesadaran bahwa persoalan yang mereka hadapi memiliki akar yang saling berkaitan. Dari sinilah Peoples’ Global Campaign (PGC) melawan IMF-WBG berkembang.

 

Dari Perjuangan Lokal Menjadi Gerakan Global

Selama lebih dari setengah abad, rakyat di berbagai negara menghadapi dampak kebijakan ekonomi yang dikaitkan dengan lembaga-lembaga keuangan internasional. Di satu tempat, petani kehilangan tanah. Di tempat lain, pekerja menghadapi upah rendah dan deregulasi ketenagakerjaan. Masyarakat adat berhadapan dengan proyek ekstraktif, sementara masyarakat miskin harus menanggung memburuknya layanan publik akibat pemangkasan anggaran. Perjuangan tersebut berlangsung dalam bentuk yang berbeda-beda, tetapi memiliki persoalan yang beririsan.

 

Pekerja memperjuangkan upah dan kondisi kerja yang layak. Petani mempertahankan tanah dan sumber penghidupannya. Masyarakat adat melindungi wilayah leluhur. Perempuan memimpin perjuangan mempertahankan layanan kesehatan dan pelayanan dasar. Pembela lingkungan menentang proyek ekstraktif dan pembangunan yang merusak ruang hidup. Sementara kaum muda menuntut keadilan ekonomi dan masa depan yang lebih baik. Bagi PGC, berbagai perjuangan itu tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.

 

Donna Denina dari All Workers United, salah satu kerja sama organisasi pekerja yang terlibat dalam PGC, menekankan pentingnya menghubungkan perjuangan tersebut melalui organisasi internasional.

 

“Keuangan internasional terorganisasi secara global. Perlawanan kita juga harus diorganisasi secara internasional.” Jelas Donna.

 

Menurutnya, gerakan internasional yang terorganisasi diperlukan untuk menghadapi struktur ekonomi global dan membangun alternatif ekonomi yang menempatkan kebutuhan rakyat di atas kepentingan keuntungan. Dengan perspektif tersebut, PGC tidak hanya melihat IMF dan Bank Dunia sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai bagian dari struktur ekonomi global yang kebijakannya dapat memengaruhi kehidupan jutaan orang di negara-negara Global Selatan.

 

Dari Bali, Seruan “Bubarkan IMF-WB”

Salah satu tonggak penting dalam perkembangan gerakan ini terjadi di Bali, Indonesia, pada 8–14 Oktober 2018. Saat itu, Gerakan Rakyat Menentang IMF-WB (Peoples’ Global Conference against IMF-WB) mempertemukan sekitar 450 delegasi, pendukung, dan pengamat dari sedikitnya 93 organisasi dan 18 negara. Mereka datang dari berbagai sektor: pekerja, petani, migran, perempuan, masyarakat adat, kaum muda, serta organisasi masyarakat sipil.

 

Konferensi tersebut diselenggarakan oleh sekitar 40 gerakan rakyat dan organisasi masyarakat sipil dari Indonesia maupun berbagai negara. Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman perjuangan menghadapi kebijakan dan proyek yang dikaitkan dengan IMF dan Bank Dunia. Dari pertemuan tersebut menguat seruan “Bubarkan IMF-WB!” (Shutdown IMF-WB!).

 

Seruan itu tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari pengalaman masyarakat yang berhadapan dengan utang, privatisasi, liberalisasi perdagangan, reformasi ketenagakerjaan, kebijakan pertanian, proyek infrastruktur, serta berbagai proyek pembangunan yang berdampak terhadap ruang hidup mereka. Sejak saat itu, jaringan PGC terus berkembang. Kini lebih dari 100 organisasi tercatat sebagai penandatangan, dengan lebih dari 400 individu dan organisasi yang terlibat dalam jaringannya.

 

Perjuangan tersebut kembali mendapatkan momentum ketika Thailand menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pada 12–18 Oktober 2026 di Bangkok. Pertemuan tersebut mengusung tema “Thailand’s New Horizons: Empowering People, Building Resilience” atau “Cakrawala Baru Thailand: Memberdayakan Rakyat, Membangun Ketangguhan”.

 

Bagi PGC dan gerakan rakyat Thailand, momentum tersebut menjadi ruang untuk menghubungkan berbagai perjuangan lokal dengan gerakan internasional yang lebih luas. Di tengah persiapan pertemuan tersebut, organisasi-organisasi rakyat di Thailand membangun mobilisasi bersama dan mengangkat kembali pengalaman panjang masyarakat yang terdampak proyek serta kebijakan pembangunan.

 

Thailand dan Warisan Proyek Bank Dunia

Pada 12 Juni 2026, Thai Peoples’ Movement (TPM) dibentuk di Bangkok. Gerakan ini menghimpun berbagai organisasi yang mewakili petani, nelayan, pengemudi, pekerja industri kreatif, pekerja migran, pemuda masyarakat adat, dan berbagai sektor lainnya. Mereka dipersatukan oleh penolakan terhadap kebijakan dan proyek yang dianggap merugikan kehidupan masyarakat serta oleh seruan untuk membangun perlawanan terhadap IMF dan Bank Dunia. Namun, perlawanan masyarakat Thailand terhadap proyek yang didanai lembaga keuangan internasional bukanlah hal baru.

 

Salah satu pengalaman yang terus dikenang adalah pembangunan Bendungan Pak Mun di Sungai Mekong. Proyek tersebut dibangun pada 1990-an dengan pendanaan Bank Dunia. Penolakan masyarakat telah berlangsung sejak 1989, ketika penduduk desa bersama guru, akademisi, mahasiswa, dan organisasi nonpemerintah mulai mengorganisir perlawanan. Kekhawatiran utama masyarakat berkaitan dengan dampak bendungan terhadap perikanan, lingkungan, dan mata pencaharian mereka.

 

Pada awal 1991, sekitar 12.000 penduduk telah menandatangani petisi yang mendesak Bank Dunia dan pemerintah Thailand untuk membatalkan pembangunan. Namun, pada Desember tahun yang sama, Bank Dunia menyetujui pinjaman sebesar US$23 juta dan proyek tetap berjalan. Pembangunan bendungan kemudian diselesaikan pada 1994.

 

Lebih dari 4.000 rumah tangga diperkirakan harus direlokasi dan menerima kompensasi. Namun, bagi masyarakat terdampak, persoalan tidak selesai dengan pembangunan fisik bendungan. Mereka terus menghadapi perubahan terhadap sungai, hilangnya sumber penghidupan, dan berkurangnya akses terhadap wilayah perikanan.

 

Lamphai Khamlap, salah seorang warga terdampak, mengenang perubahan tersebut.

 

“Seperti yang sudah saya duga sejak awal, ikan-ikan telah hilang, dan tidak ada sesuatu yang baik yang dihasilkan darinya.” Jelasnya.

 

Pengalaman tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih besar dalam proyek pembangunan: terdapat perbedaan antara bagaimana sebuah proyek dinilai oleh lembaga keuangan dan bagaimana proyek tersebut dirasakan oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya.

 

Pada 1997, penilaian Bank Dunia sendiri menggambarkan hasil relokasi proyek sebagai memuaskan dan bahkan menyebutnya sebagai salah satu pengalaman terbaik mereka. Namun, bagi masyarakat terdampak, perjuangan tidak berhenti pada laporan evaluasi tersebut. Perbedaan pengalaman inilah yang kemudian menjadi salah satu persoalan penting dalam kritik terhadap model pembangunan yang menempatkan indikator ekonomi dan keberhasilan proyek di atas pengalaman masyarakat di tingkat akar rumput.

 

Pengetahuan sebagai Senjata Rakyat

Bagi gerakan seperti PGC, persoalan tidak berhenti pada mempertanyakan satu proyek atau satu kebijakan. Yang juga penting adalah memahami bagaimana keputusan ekonomi dibuat, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang harus menanggung biayanya.

 

Donna Denina mempertanyakan hal tersebut secara langsung.

“Setiap reformasi neoliberal menciptakan pihak-pihak yang diuntungkan. Ketika aset publik diprivatisasi, siapa yang mendapatkannya? Perusahaan multinasional mana yang mendapatkan kontrak? Bank internasional mana yang mendapatkan keuntungan dari utang negara dan restrukturisasi utang?”

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi bahan diskusi di ruang akademik atau lembaga-lembaga kebijakan. Pengetahuan tentang bagaimana utang, privatisasi, liberalisasi, dan proyek pembangunan bekerja harus dibawa kepada rakyat yang mengalami dampaknya secara langsung.

 

“Pengetahuan itu harus menjadi bagian dari pendidikan politik rakyat dan pengetahuan yang dibawa ke tingkat akar rumput,” ujarnya.

 

Dalam kerangka tersebut, memahami struktur ekonomi global menjadi bagian dari membangun kemampuan rakyat untuk mengorganisir diri.

 

“Pengetahuan menjadi senjata ketika pengetahuan tersebut memperkuat kemampuan rakyat untuk berorganisasi,” kata Donna Denina.

 

Perjuangan masyarakat Pak Mun menunjukkan bahwa perlawanan terhadap sebuah proyek tidak selalu berakhir ketika proyek tersebut selesai dibangun. Bagi masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan, dampaknya dapat berlangsung selama puluhan tahun. Pengalaman itu juga memperlihatkan bahwa perjuangan lokal dapat memiliki hubungan dengan persoalan yang jauh lebih luas. Konflik atas tanah, sungai, pekerjaan, layanan publik, dan sumber daya alam tidak berdiri sendiri ketika kebijakan ekonomi yang memengaruhinya terhubung dengan struktur pembiayaan dan kepentingan modal internasional.

 

Karena itu, menjelang pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, PGC dan TPM berupaya menghubungkan berbagai perjuangan tersebut dalam satu jaringan solidaritas internasional. Dari Afrika hingga Asia, dari perjuangan buruh hingga petani, dari masyarakat adat hingga pembela lingkungan, berbagai gerakan rakyat terus mempertanyakan model pembangunan yang menempatkan keuntungan dan kepentingan modal di atas kehidupan masyarakat.

 

Bagi mereka, perjuangan melawan eksploitasi IMF dan Bank Dunia bukan sekadar perjuangan menentang dua lembaga keuangan internasional. Ia merupakan bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk menentukan siapa yang berhak menguasai sumber daya, menentukan arah pembangunan, dan menikmati hasil dari kekayaan yang dihasilkan masyarakat. Perjuangan itu belum selesai.

 

People Over Profit merupakan salah satu jaringan yang turut terlibat dalam pembentukan Peoples’ Global Campaign Against International Monetary Fund (IMF) and the World Bank Group (WBG).

Posting Komentar untuk "Siapa yang Diuntungkan dari Utang ? Lawan Eksploitasi IMF dan Bank Dunia"