Gotong Royong Bersihkan Irigasi Dari Endapan Lumpur, Petani Lamedai Berjuang di Tengah Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Ekspansi Industri Nikel
Kolaka — Puluhan petani Desa Lamedai,
Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, bergotong royong
membersihkan bendungan dan saluran irigasi yang mengaliri areal persawahan
mereka. Selama dua hari berturut-turut, Sabtu hingga Minggu, 10–11 Oktober
2026, para petani berjibaku membongkar endapan lumpur yang telah mengeras demi
memulihkan pasokan air ke sawah.
Kegiatan yang berlangsung sejak
pukul 08.00 hingga 10.45 WITA itu dimulai dari bendungan di Dusun IV, Desa
Lamedai, kemudian berlanjut ke pintu air dan menyusuri saluran irigasi menuju
kawasan persawahan warga. Dengan peralatan sederhana, para petani mencangkul
dan mengangkat lumpur yang menutupi aliran air. Tebalnya endapan membuat
pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga ekstra.
Gotong royong ini lahir dari
kesadaran bersama bahwa keberlangsungan pertanian mereka sangat bergantung pada
ketersediaan air. Bagi petani Lamedai, saluran irigasi bukan sekadar
infrastruktur pengairan, melainkan penopang kehidupan dan sumber penghidupan keluarga
mereka.
Namun, upaya mandiri tersebut
juga memperlihatkan persoalan yang lebih besar. Petani harus mengerahkan tenaga
sendiri untuk membersihkan bendungan dan saluran irigasi yang mengalami
pendangkalan parah, sementara penyebab sedimentasi dan ancaman kerusakan
lingkungan di wilayah hulu belum terselesaikan.
Lumpur Mengancam Produktivitas Sawah
Endapan lumpur yang menutupi
aliran Sungai Oko-Oko hingga bendungan dan saluran irigasi telah menyebabkan
pasokan air ke persawahan Desa Lamedai berkurang drastis. Aliran air yang
sebelumnya mencukupi kebutuhan pertanian kini tidak lagi berjalan sebagaimana
mestinya. Akibatnya, pertumbuhan tanaman padi melambat, produktivitas menurun,
bahkan sebagian petani mengalami gagal panen.
Dampaknya tidak berhenti pada
berkurangnya pasokan air. Lumpur berwarna merah yang mengendap dan menutupi
lahan pertanian juga dikeluhkan petani karena mengubah kondisi tanah dan
mengganggu pertumbuhan tanaman.
Menurut keterangan warga, tanah
atau lumpur yang mengendap di sawah pernah dibawa ke laboratorium untuk
diperiksa. Hasil pemeriksaan tersebut, sebagaimana disampaikan warga,
menunjukkan bahwa lahan yang terdampak hanya menyisakan kandungan kalium,
sedangkan nitrogen dan fosfor disebut telah habis atau tidak terdeteksi. Jika
tanah hanya mengandung kalium, pertumbuhan tanaman padi dapat terhambat, daun
menguning, pembentukan anakan dan bulir berkurang, serta produktivitas panen
menurun.
Ketika pasokan air terus
berkurang, persoalan menjadi semakin berat. Sejumlah sawah mengering karena
tidak memperoleh air yang cukup. Situasi ini diperparah oleh musim kemarau
ekstrem akibat El Niño yang membuat petani kesulitan mengolah lahan dan memulai
musim tanam.
Padahal, sebelum banjir semakin
parah dan intens dalam tiga tahun terakhir, petani Desa Lamedai mengaku tidak
pernah mengalami kekurangan air untuk bersawah, termasuk ketika memasuki musim
kemarau. Sungai Oko-Oko masih mampu menyediakan air yang mencukupi, bahkan
dengan kondisi air yang relatif jernih dan baik untuk pertanian.
Perubahan kondisi tersebut
menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa wilayah yang sebelumnya memiliki
pasokan air memadai kini menghadapi kekurangan air pada musim kemarau,
sekaligus banjir dan sedimentasi ketika musim hujan?
Perubahan Bentang Alam di Wilayah Hulu
Untuk menjawab persoalan
tersebut, kondisi di Desa Lamedai tidak dapat dipisahkan dari perubahan bentang
alam di wilayah hulu. Sungai merupakan satu kesatuan ekologis yang
menghubungkan kawasan hulu, tengah, dan hilir. Perubahan tutupan lahan di
daerah tangkapan air dapat memengaruhi aliran air, erosi, sedimentasi, serta
kondisi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai.
Persoalan yang dihadapi petani
muncul bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pertambangan nikel dan
pembangunan kawasan industri di wilayah sekitar. Ekspansi kegiatan ekstraktif,
termasuk pembangunan kawasan industri dalam kerangka Proyek Strategis Nasional
(PSN), berpotensi mengubah tutupan vegetasi dan karakter daerah aliran sungai.
Ketika hutan dibuka dalam skala
besar, kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air dapat berubah. Tanah yang
kehilangan tutupan vegetasi juga lebih rentan mengalami erosi. Saat hujan turun
dengan intensitas tinggi, partikel tanah terbawa aliran permukaan menuju parit,
anak sungai, dan badan sungai.
Sedimen yang terus terbawa
kemudian dapat menumpuk di sepanjang aliran sungai, bendungan, dan saluran
irigasi. Penumpukan tersebut menyebabkan pendangkalan dan mengurangi kapasitas
tampung air. Ketika debit sungai meningkat, risiko luapan dan banjir pun dapat
bertambah. Rangkaian ini memperlihatkan mengapa pembukaan lahan, erosi,
sedimentasi, pendangkalan sungai, dan banjir perlu diperiksa sebagai persoalan
yang saling berkaitan.
Dugaan keterkaitan antara
perubahan bentang alam dan memburuknya kondisi sungai tidak boleh diabaikan.
Ketika masyarakat mengalami perubahan pola banjir, pendangkalan, dan kerusakan
lahan secara berulang di tengah ekspansi industri, pemerintah dan perusahaan terkait
harus membuka data serta melakukan pemeriksaan lingkungan secara menyeluruh.
Delapan Perusahaan di Sekitar Aliran Sungai
Krisis yang dialami petani Desa
Lamedai berlangsung di tengah aktivitas pembukaan lahan dan pembangunan kawasan
industri di wilayah hulu. Warga mengaitkan memburuknya kondisi sungai dalam
tiga tahun terakhir dengan pembukaan lahan untuk pembangunan kawasan Industrial
Park Indonesia Pomalaa (PT IPIP) dan aktivitas industri serta pertambangan
lainnya.
Selain PT IPIP, Dinas
Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kolaka disebut telah merilis daftar delapan
perusahaan yang berkaitan langsung dengan aliran Sungai Ewo-Ewo dan Oko-Oko,
yang mengaliri persawahan di Desa Lamedai. Perusahaan-perusahaan tersebut
adalah PT IPIP, PT Vale, PT Toshida, PT Gasing Sulawesi, PT Madinra Inti Sawit,
PT Surya Lintas Gemilang, PT Bola Dunia Mandiri, dan PT Dharma Bumi Kolaka.
Bagi petani Lamedai, dampak
sedimentasi bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Lumpur yang
terbawa dari wilayah hulu menumpuk di bendungan dan saluran irigasi, menghambat
aliran air, serta memperbesar beban yang harus mereka tanggung untuk
mempertahankan pertanian.
Situasi semakin buruk ketika
musim hujan tiba. Aliran air dengan debit tinggi yang membawa lumpur dan batang
pepohonan dapat merusak bangunan bendungan, menimbun sawah, dan menggenangi
permukiman. Petani pun menghadapi ancaman kehilangan hasil panen, kerusakan
lahan, hingga terhentinya kegiatan pertanian.
Salah satu peristiwa besar
terjadi pada akhir 2025. Banjir saat itu dilaporkan merusak sekitar 247 hektare
lahan sawah di Desa Lamedai dan Oko-Oko. Curah hujan tinggi memang menjadi
salah satu faktor, tetapi kondisi tutupan lahan di wilayah hulu yang telah
banyak berubah perlu diperiksa untuk mengetahui sejauh mana perubahan tersebut
memperburuk dampak banjir.
Kerugian tersebut menunjukkan
bahwa persoalan sungai tidak bisa diselesaikan hanya dengan membersihkan
saluran irigasi setiap kali terjadi pendangkalan. Tanpa penanganan sumber
sedimentasi dan pemulihan kondisi daerah tangkapan air, petani berisiko terus
terjebak dalam siklus kerusakan yang sama.
Gotong Royong Warga dan Lambannya Pemulihan
Di tengah situasi tersebut,
gotong royong membersihkan bendungan dan saluran irigasi menjadi langkah
darurat yang dilakukan petani Desa Lamedai untuk mempertahankan penghidupan
mereka. Dengan membersihkan endapan lumpur, warga berharap aliran air kembali
lancar sehingga sawah dapat diolah dan ditanami.
Namun, kegiatan ini juga secara
tidak langsung bagaikan protes simbolik terhadap lambannya upaya normalisasi
sungai yang selama ini dituntut masyarakat. Petani tidak seharusnya
terus-menerus menanggung sendiri dampak sedimentasi dan kerusakan infrastruktur
pengairan yang mengancam keberlangsungan pertanian mereka.
Warga mendesak Pemerintah
Kabupaten Kolaka, pemerintah terkait, manajemen PT IPIP, serta perusahaan
pertambangan dan industri yang beroperasi di Kecamatan Pomalaa dan Tanggetada
untuk segera mengambil langkah nyata. Upaya tersebut harus mencakup normalisasi
sungai dan bendungan, pemulihan saluran irigasi, pengendalian sedimentasi dari
wilayah hulu, serta evaluasi terhadap aktivitas yang berpotensi memperburuk
kerusakan lingkungan.
Normalisasi sungai memang
dibutuhkan, tetapi pengerukan lumpur saja tidak cukup apabila sumber
sedimentasi terus berlangsung. Pemulihan harus dilakukan dari hulu hingga
hilir, disertai pengawasan terhadap pembukaan lahan, pengelolaan limpasan air,
pengendalian erosi, dan pemulihan vegetasi di wilayah tangkapan air.
Langkah tersebut penting untuk
mengurangi risiko banjir dan sedimentasi saat musim hujan, sekaligus menjaga
ketersediaan air bagi petani pada musim kemarau. Pemerintah dan perusahaan
terkait juga perlu membuka hasil kajian lingkungan serta melibatkan warga dalam
pemantauan kondisi sungai dan pelaksanaan program pemulihan.
Petani Lamedai Masih Was-was
Gotong royong yang dilakukan
petani mungkin dapat membantu memulihkan aliran air dalam jangka pendek. Namun,
kegiatan itu belum menjawab ancaman banjir yang dapat kembali terjadi ketika
musim hujan tiba.
Kekhawatiran tersebut
beralasan. Menurut warga, bendungan yang sebelumnya memiliki kedalaman sekitar
tiga meter atau lebih kini mengalami pendangkalan drastis. Jika dahulu warga
harus menyelam untuk mencari ikan di sekitar bendungan, kini mereka dapat
berdiri di bagian yang sama. Kedalaman air diperkirakan hanya tersisa sekitar
satu hingga satu setengah meter.
Bahkan pada musim kemarau
ekstrem, bendungan masih tampak penuh. Akan tetapi, kondisi tersebut bukan
semata-mata menunjukkan besarnya volume air yang tertampung. Endapan lumpur
bercampur pasir telah mengurangi kedalaman dan kapasitas tampung bendungan.
Kondisi ini menimbulkan
kekhawatiran menjelang musim hujan. Ketika debit sungai meningkat, bendungan
yang telah dangkal memiliki ruang tampung lebih kecil untuk menahan aliran air.
Jika limpasan dari wilayah hulu juga membawa sedimen dalam jumlah besar, air
berpotensi lebih cepat meluap dan mengalir menuju kawasan persawahan serta
permukiman.
Risiko tersebut perlu
diantisipasi melalui pengukuran kedalaman dan kapasitas bendungan, pemeriksaan
kondisi bangunan pengairan, serta kajian debit sungai dan sedimentasi. Tanpa
penanganan yang memadai, ancaman banjir dapat kembali membayangi petani yang
baru saja berusaha memulihkan lahan mereka.
Di tengah ketidakpastian itu,
petani Desa Lamedai memilih bekerja bersama. Mereka membersihkan lumpur,
membuka kembali saluran air, dan berusaha menyelamatkan sawah yang menjadi
sumber penghidupan. Namun, tenaga dan peralatan sederhana milik warga memiliki
batas.
Gotong royong petani seharusnya
menjadi pengingat bahwa persoalan ini tidak bisa terus dibebankan kepada
masyarakat. Pemerintah harus memastikan pemulihan sungai dan infrastruktur
pengairan berjalan, sementara perusahaan yang terbukti berkontribusi terhadap
kerusakan wajib dimintai pertanggungjawaban.
Sebab, bagi petani Lamedai,
sungai yang dangkal bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia menentukan apakah
sawah dapat ditanami, apakah panen bisa dipertahankan, dan apakah keluarga
mereka masih memiliki sumber penghidupan pada musim berikutnya. Tanpa pemulihan
menyeluruh dari hulu hingga hilir, gotong royong hari ini berisiko hanya menjadi
upaya sementara sebelum petani kembali menghadapi banjir, lumpur, dan
kekeringan.




Posting Komentar untuk "Gotong Royong Bersihkan Irigasi Dari Endapan Lumpur, Petani Lamedai Berjuang di Tengah Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Ekspansi Industri Nikel"