Panggung Ekspresi, Cara Pemuda Kolaka Memperingati Hari Sumpah Pemuda
Memperingati 98 tahun Sumpah
Pemuda, sejumlah organisasi pemuda dan komunitas di Kabupaten Kolaka menggelar
malam panggung bebas ekspresi di depan Rumah Adat Kolaka, Rabu (28/10).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WITA ini menjadi ruang pertemuan bagi
anak muda untuk mengekspresikan gagasan, menyampaikan kritik sosial, sekaligus
mempererat hubungan antarkomunitas melalui seni dan budaya.
Puluhan peserta hadir dalam
kegiatan yang dimeriahkan dengan beragam penampilan, mulai dari pembacaan
puisi, pertunjukan musik, live
mural, ulasan novel, lapak baca, hingga pameran karya. Berbeda dari
peringatan yang hanya berpusat pada seremoni, panggung ini menghadirkan ruang
partisipasi yang terbuka bagi anak muda untuk menyampaikan pandangan dan
keresahan mereka terhadap berbagai persoalan sosial.
Ungke, yang mewakili
penyelenggara, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengenang
peristiwa Sumpah Pemuda pada 1928, tetapi juga mempertemukan kembali komunitas
dan anak muda yang ada di Kabupaten Kolaka.
“Kegiatan
ini selain untuk merefleksikan dan mengingat kembali bagaimana Sumpah Pemuda
dideklarasikan 98 tahun yang lalu, juga memiliki tujuan lain, yaitu untuk
mempertemukan kembali komunitas-komunitas serta anak muda yang ada di Kabupaten
Kolaka. Komunikasi dan silaturahmi adalah hal yang sangat penting untuk
dibangun,” jelas Ungke.
Menurutnya, ruang pertemuan
semacam ini penting untuk menjaga hubungan antarkomunitas sekaligus membuka
kesempatan bagi anak muda untuk saling bertukar gagasan. Melalui kegiatan yang
sederhana dan terbuka, seni dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran
bersama mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Mengenang Sumpah Pemuda,
Meneruskan Semangat Persatuan
Sumpah Pemuda yang lahir pada
28 Oktober 1928 merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah pergerakan
nasional Indonesia. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa
persatuan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh dari perkembangan
organisasi-organisasi pemuda yang mulai melampaui ikatan kedaerahan dan
membangun cita-cita bersama untuk membebaskan bangsa dari penjajahan kolonial.
Pada masa itu, pemuda terlibat
dalam berbagai organisasi dan gerakan yang mendorong kesadaran kebangsaan.
Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 mempertemukan
berbagai kelompok pemuda dalam semangat persatuan. Ikrar yang dihasilkan
menjadi penegasan bahwa perjuangan melawan kolonialisme membutuhkan persatuan
yang lebih luas, melampaui perbedaan suku, daerah, dan latar belakang.
Semangat Sumpah Pemuda tidak
semestinya berhenti sebagai hafalan sejarah atau seremoni tahunan. Nilai
progresifnya terletak pada keberanian generasi muda membangun persatuan,
menentang penindasan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih adil bagi rakyat.
Dalam konteks hari ini,
semangat tersebut dapat diwujudkan melalui keterlibatan pemuda dalam menghadapi
berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan sosial, keterbatasan akses
pendidikan dan pekerjaan, hingga kerusakan lingkungan yang mengancam ruang
hidup masyarakat. Panggung bebas ekspresi di Kolaka menjadi salah satu cara
untuk meneruskan semangat itu melalui karya, diskusi, dan pertemuan
antarkomunitas.
Puisi sebagai Suara atas
Kerusakan Lingkungan
Pesan sosial menjadi salah satu
hal yang menonjol dalam kegiatan malam itu. Puisi dan musik tidak sekadar
menjadi hiburan, tetapi juga medium untuk menyampaikan keresahan terhadap
kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Salah satu penampilan yang
menarik perhatian peserta adalah pembacaan puisi berjudul Tanah
Merah karya Riyan Gandi, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi
(FST) Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka. Puisi tersebut dibacakan
langsung oleh penulisnya di hadapan para peserta.
Melalui Tanah
Merah, Riyan menggambarkan kehancuran alam dan ruang hidup
masyarakat akibat ekspansi industri pertambangan yang kerap dibenarkan atas
nama kemajuan dan kesejahteraan. Tanah digambarkan sebagai ibu yang memiliki
hubungan erat dengan kehidupan manusia, tetapi perlahan mengalami kerusakan
akibat eksploitasi.
Perubahan tanah yang semula
menjadi sumber kehidupan menjadi simbol penderitaan masyarakat yang kehilangan
ruang hidup, ingatan, dan masa depan. Di balik janji investasi dan pembangunan,
tersimpan persoalan perampasan tanah, kerusakan lingkungan, serta nasib
masyarakat yang harus menanggung dampak aktivitas industri.
Puisi tersebut menghadirkan
kritik terhadap pembangunan yang menempatkan kepentingan industri di atas
keselamatan manusia dan kelestarian alam. Pada saat yang sama, Tanah
Merah menjadi pengingat bahwa tanah bukan sekadar komoditas
atau kawasan produksi, melainkan ruang hidup yang menopang keberlangsungan
masyarakat.
Kritik serupa juga hadir
melalui puisi Niskala yang ditulis dan
dibacakan sendiri oleh Shinta. Puisi ini menyoroti ketimpangan sosial dan
kerusakan ekologis di kawasan industri, khususnya Padamarang dan Pomalaa.
Melalui gambaran masyarakat
yang harus berhadapan dengan polusi, banjir, dan penderitaan, Shinta
memperlihatkan kontras dengan pihak-pihak yang tetap menikmati kenyamanan di
tengah keuntungan industri. Ungkapan seperti “selimut kelabu” dan “diamuk
bah” membangun suasana muram, sedangkan gambaran kemewahan di tengah
penderitaan rakyat menjadi sindiran terhadap ketidakadilan yang berlangsung.
Kedua puisi tersebut
memperlihatkan bagaimana karya sastra dapat menjadi ruang untuk menyuarakan
pengalaman dan keresahan masyarakat. Di tengah perubahan lingkungan dan
ekspansi industri di wilayah Kolaka dan sekitarnya, puisi menjadi cara bagi
anak muda untuk mempertanyakan arah pembangunan serta siapa yang sesungguhnya
memperoleh keuntungan dan siapa yang harus menanggung kerugiannya.
Musik, Buku, dan Ruang Belajar
Bersama
Selain puisi, pertunjukan musik
turut menghidupkan panggung bebas ekspresi. Sejumlah penampil membawakan
lagu-lagu dari musisi yang dikenal melalui karya-karya dengan kritik sosial,
seperti Iwan Fals, Iksan Skuter, Desa Luka Negara, dan Marjinal.
Lagu-lagu tersebut membawa
pesan tentang kehidupan rakyat, ketidakadilan, dan pentingnya menjaga
lingkungan. Melalui musik, para penampil mengajak peserta untuk melihat
berbagai persoalan di sekitar mereka secara lebih kritis. Suasana panggung pun
menjadi ruang untuk menikmati karya sekaligus merenungkan pesan yang
disampaikan.
Kegiatan ini tidak hanya berisi
pertunjukan seni. Herlita, salah satu penampil, turut mengulas novel yang
ditulisnya sendiri. Novel tersebut mengangkat persoalan kesehatan mental anak
dan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Anak-anak sebagai generasi
penerus memiliki hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dan memperoleh
dukungan yang memadai. Namun, mereka juga memiliki kerentanan yang perlu
dipahami, terutama ketika menghadapi tekanan sosial maupun persoalan di
lingkungan sekitarnya.
Ulasan novel tersebut
memperluas pembahasan malam itu, dari persoalan lingkungan dan ketimpangan
sosial hingga pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis anak. Hal ini
menunjukkan bahwa ruang ekspresi dapat menjadi tempat untuk membicarakan
beragam persoalan yang sering kali kurang mendapat perhatian.
Kehadiran lapak baca, pameran,
dan live mural
juga memperlihatkan bahwa seni dan literasi dapat dikembangkan sebagai bagian
dari aktivitas bersama. Anak muda tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi
juga diberi kesempatan untuk menghasilkan karya, berbagi pengetahuan, dan
membangun percakapan.
Merawat Solidaritas
Antarkomunitas
Sepanjang kegiatan, peserta
memberikan tanggapan positif terhadap penyelenggaraan panggung bebas ekspresi
tersebut. Konsepnya yang sederhana dan terbuka memberikan kesempatan bagi
berbagai komunitas untuk berkumpul tanpa sekat yang kaku.
Pesan-pesan yang disampaikan
melalui puisi, musik, buku, dan karya visual juga menjadi bahan refleksi bagi
peserta. Mereka tidak hanya menikmati penampilan, tetapi turut berhadapan
dengan berbagai persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kolaka.
Sejumlah peserta berharap
kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara lebih rutin. Pertemuan yang
berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga komunikasi, mempererat hubungan
antarkomunitas, serta membuka ruang kolaborasi di antara anak muda.
Lebih dari sekadar hiburan,
panggung bebas ekspresi menjadi upaya membangun ruang bersama yang memungkinkan
anak muda bertukar pikiran, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan
solidaritas. Kebiasaan berkumpul, berdiskusi, membaca, dan berkarya dapat
menjadi fondasi bagi tumbuhnya komunitas yang lebih aktif dalam merespons
persoalan di lingkungannya.
Peringatan 98 tahun Sumpah
Pemuda di Kolaka melalui panggung bebas ekspresi mengingatkan bahwa persatuan
tidak cukup hanya diucapkan. Persatuan perlu dirawat melalui komunikasi, kerja
bersama, dan keberanian menyuarakan persoalan rakyat.
Semangat progresif Sumpah
Pemuda dapat terus hidup ketika anak muda tidak hanya mengenang perjuangan
generasi terdahulu, tetapi juga mengambil bagian dalam perjuangan hari ini:
melawan ketidakadilan, menjaga lingkungan, memperjuangkan hak-hak masyarakat,
dan membangun masa depan yang lebih baik.




Posting Komentar untuk "Panggung Ekspresi, Cara Pemuda Kolaka Memperingati Hari Sumpah Pemuda"