Warisan Kebijakan IMF-Bank Dunia di Thailand : Krisis Energi yang Harus Dibayar Mahal Oleh Rakyat.
BANGKOK — Kenaikan harga bahan bakar minyak
(BBM) di Thailand kembali menyoroti persoalan mendasar dalam tata kelola energi
negara tersebut. Di tengah melonjaknya harga minyak dunia dan meningkatnya
biaya hidup, masyarakat harus menghadapi harga bahan bakar yang semakin mahal,
sementara pendapatan pekerja tidak mengalami peningkatan yang sebanding.
Pada 17 September 2026,
Kementerian Energi Thailand mengumumkan kenaikan harga eceran solar B7 menjadi
40,69 baht per liter. Kenaikan ini memicu kritik dari Thailand Peoples’
Movement Against IMF-WB (TPM), sebuah gerakan masyarakat sipil yang menilai
bahwa persoalan energi Thailand tidak semata-mata disebabkan oleh gejolak harga
minyak global, tetapi juga berkaitan dengan struktur industri minyak yang
monopolistik, sistem perpajakan, dan kebijakan energi yang dinilai lebih
menguntungkan perusahaan besar daripada masyarakat.
Dampak kenaikan harga tersebut
dirasakan langsung oleh berbagai kelompok masyarakat, terutama pekerja informal
yang menggantungkan penghidupan pada kendaraan bermotor. Bagi para pengemudi
ojek, misalnya, kenaikan harga BBM berarti bertambahnya biaya operasional tanpa
jaminan peningkatan pendapatan.
“Saya
adalah pengemudi ojek di Thailand, dan kenaikan harga minyak bukan hanya
persoalan energi. Ini adalah persoalan penghidupan,” ujar Apple, anggota Southern Riders
Association Thailand sekaligus juru bicara Thailand Peoples’ Movement Against
IMF-WB.
Menurut Apple, para pengemudi
ojek menggunakan sepeda motor setiap hari untuk mencari nafkah, bahkan bekerja
selama delapan hingga sepuluh jam atau lebih. Ketika harga bahan bakar
meningkat, pendapatan yang mereka terima tidak bertambah dengan besaran yang
sebanding.
“Kami
berada dalam situasi ketika biaya kami meningkat, tetapi pendapatan tetap sama
atau bahkan menurun,”
ungkapnya.
Situasi tersebut memperlihatkan
bagaimana krisis energi dapat berubah menjadi krisis penghidupan. Ketika biaya
produksi dan transportasi meningkat, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah
menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampaknya.
Monopoli
Industri Energi dan Warisan Kebijakan IMF
Thailand Peoples’ Movement
Against IMF-WB menilai bahwa kenaikan harga BBM tidak dapat dilepaskan dari
struktur industri minyak bumi Thailand yang memberikan ruang besar bagi
perusahaan-perusahaan energi untuk menentukan harga dan memperoleh keuntungan.
Menurut TPM, lanskap energi
Thailand saat ini turut dibentuk oleh Letter of Intent antara pemerintah
Thailand dan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Agustus 1998. Kesepakatan
tersebut, menurut gerakan ini, mendorong korporatisasi dan privatisasi sebagian
aset energi milik publik, yang kemudian memperbesar peran perusahaan dalam
pengelolaan sektor energi.
Nai, juru bicara TPM,
menjelaskan bahwa Thailand masih bergantung pada impor minyak bumi untuk
memenuhi kebutuhan domestiknya. Produksi dalam negeri belum mencukupi seluruh
kebutuhan energi sehingga negara tersebut harus mendatangkan tambahan pasokan,
termasuk minyak mentah dan produk minyak bumi olahan dari luar negeri.
“Ketergantungan
ini membuat perekonomian Thailand rentan terhadap perubahan harga minyak di
pasar internasional. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya pengadaan
energi ikut terdorong naik dan kemudian merambat ke sektor transportasi,
distribusi barang, pertanian, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya.” Jelas Nai.
Namun, TPM menegaskan bahwa
ketergantungan terhadap impor bukan satu-satunya persoalan. Sistem pembentukan
harga bahan bakar di dalam negeri juga menjadi sumber kritik.
Menurut Nai, harga bahan bakar
di tingkat kilang atau ex-refinery
price di Thailand tidak hanya ditentukan berdasarkan biaya produksi
aktual di dalam negeri. Harga tersebut juga dikaitkan dengan harga produk
minyak bumi olahan di Singapura, yang dikenal melalui acuan Mean of Platts
Singapore (MOPS).
“Akibatnya,
harga bahan bakar yang diproduksi di Thailand pun dapat mengikuti perubahan
harga acuan regional, meskipun produk sejenis tersedia dari produksi domestik.”
Terang Nai.
TPM mempersoalkan penggunaan
acuan tersebut karena dinilai dapat membebani konsumen dan tidak selalu
mencerminkan biaya produksi aktual di dalam negeri. Bagi gerakan ini, kebijakan
penetapan harga energi semestinya mempertimbangkan kemampuan masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan hidup, bukan hanya mengikuti mekanisme pasar dan kepentingan
industri.
Selain komponen harga di
tingkat kilang, harga eceran BBM juga dipengaruhi berbagai pungutan, termasuk
pajak cukai, pajak pertambahan nilai (PPN), pungutan Oil Fund, dan Energy
Conservation Fund. Kombinasi antara ketergantungan impor, mekanisme penetapan
harga, dan berbagai pungutan tersebut membuat masyarakat harus membayar lebih
mahal untuk memperoleh energi yang mereka butuhkan sehari-hari.
Pemotongan
Pajak Sementara Tak Menyelesaikan Persoalan
Menghadapi kenaikan harga BBM,
pemerintah Thailand sebelumnya mengambil langkah berupa pengurangan pajak cukai
bahan bakar. Namun, TPM menilai kebijakan tersebut belum cukup untuk mengatasi
persoalan secara menyeluruh.
Nai menyebutkan bahwa
gerakannya telah menggelar aksi protes dengan sejumlah tuntutan, termasuk
penghapusan pajak cukai bahan bakar, penurunan biaya kilang, serta pengendalian
harga LPG untuk kebutuhan memasak. Menurut TPM, respons pemerintah yang hanya
mengandalkan pengurangan pajak tidak menyentuh akar persoalan industri energi.
Selama struktur pasar masih terkonsentrasi dan mekanisme pembentukan harga
tetap membebani konsumen, kebijakan pengurangan pajak hanya akan menjadi solusi
sementara.
“Pemerintah
harus berhenti mengandalkan pemotongan pajak sementara dan menghadapi akar
persoalan. Mereka harus membongkar monopoli pasar, merombak ketergantungan pada
acuan harga kilang Singapura, serta membangun sistem energi yang melindungi
kepentingan publik, bukan para elite korporasi,” tegas Nai.
Bagi TPM, reformasi energi tidak cukup dilakukan dengan menurunkan satu atau dua komponen harga. Diperlukan perubahan yang lebih mendasar terhadap sistem pengelolaan energi, mulai dari struktur pasar, kebijakan perpajakan, hingga mekanisme perlindungan konsumen. Tuntutan tersebut menempatkan persoalan energi bukan sekadar sebagai persoalan teknis ekonomi, melainkan juga sebagai persoalan keadilan sosial: siapa yang mengendalikan sumber daya energi, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang harus menanggung beban ketika harga meningkat.
Beban Krisis
Merambat ke Pangan dan Kebutuhan Pokok
Dampak kenaikan harga BBM tidak
berhenti pada pengeluaran untuk mengisi tangki kendaraan. Kenaikan biaya energi
turut memengaruhi ongkos pengangkutan bahan pangan, pengiriman barang, dan
distribusi berbagai kebutuhan pokok. Ketika biaya transportasi meningkat,
petani, pedagang kecil, pelaku usaha, dan distributor menghadapi kenaikan biaya
operasional. Dalam situasi tertentu, tambahan biaya tersebut diteruskan ke
konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Akibatnya, rumah tangga
berpenghasilan rendah harus mengalokasikan lebih banyak uang untuk kebutuhan
dasar. Padahal, sebagian besar pendapatan mereka telah digunakan untuk membeli
makanan, membayar sewa tempat tinggal, memenuhi kebutuhan pendidikan, dan
membiayai layanan kesehatan.
Bagi kelompok ini, kenaikan
harga bahan bakar sekecil apa pun dapat mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan
keluarga. Ketika harga pangan dan transportasi meningkat bersamaan, tekanan
terhadap penghidupan masyarakat menjadi semakin berat.
“Pada
akhirnya, masyarakat harus membayar lebih mahal untuk makanan dan kebutuhan
pokok lainnya,” ujar
Apple.
Dengan demikian, krisis energi
tidak hanya menyangkut hubungan antara harga minyak dan biaya transportasi.
Persoalan ini juga menyangkut distribusi beban ekonomi dalam masyarakat. Ketika
harga meningkat, kelompok yang memiliki pendapatan tetap atau tidak menentu
cenderung memiliki ruang yang lebih kecil untuk menyesuaikan pengeluaran
mereka.
Sementara itu,
perusahaan-perusahaan besar dapat memiliki kapasitas yang lebih besar untuk
menyesuaikan strategi bisnis, harga, maupun biaya operasional. Ketimpangan
kemampuan menghadapi krisis inilah yang membuat pekerja informal dan masyarakat
berpenghasilan rendah semakin rentan.
Pekerja
Platform Terjepit di Antara Kenaikan Biaya dan Pendapatan yang Tak Pasti
Bagi pengemudi ojek dan pekerja
platform, kenaikan harga BBM menimbulkan persoalan yang lebih kompleks. Mereka
tidak hanya menghadapi harga bahan bakar yang meningkat, tetapi juga berhadapan
dengan sistem tarif yang ditentukan atau dipengaruhi oleh perusahaan platform.
Apple menjelaskan bahwa
kenaikan biaya operasional tidak secara otomatis diikuti penyesuaian tarif
pengantaran. Kalaupun terjadi kenaikan tarif, jumlahnya sering kali tidak cukup
untuk menutup tambahan pengeluaran dan menjaga pendapatan tetap layak. Kondisi
ini menempatkan pengemudi dalam posisi yang sulit. Mereka harus terus bekerja
untuk mempertahankan pendapatan, tetapi semakin banyak uang yang diperoleh
justru digunakan untuk menutup biaya bahan bakar dan kebutuhan operasional.
Dalam situasi tersebut, risiko
kenaikan harga energi seolah-olah dialihkan kepada pekerja yang memiliki
kendali terbatas terhadap harga minyak dunia maupun kebijakan tarif platform. Karena
itu, Apple menuntut agar perusahaan platform ikut menanggung dampak kenaikan
harga BBM. Menurutnya, platform perlu memiliki mekanisme transparan untuk
menyesuaikan tarif pengantaran atau menyediakan tunjangan bahan bakar ketika
biaya energi meningkat secara signifikan.
Para pengemudi juga harus
memperoleh informasi yang jelas mengenai perhitungan tarif, bagian pembayaran
pelanggan yang diterima pekerja, serta potongan dan biaya yang diambil oleh
perusahaan platform. Transparansi tersebut penting agar pekerja dapat
mengetahui bagaimana pendapatan mereka dihitung dan apakah perubahan tarif
benar-benar memberikan perlindungan terhadap kenaikan biaya hidup.
Bagi Apple, pekerja tidak
seharusnya dipaksa menanggung seluruh risiko ekonomi ketika biaya operasional
meningkat. Jika perusahaan memperoleh keuntungan dari layanan yang dijalankan
para pengemudi, perusahaan juga harus mengambil tanggung jawab ketika kondisi
ekonomi memperberat kehidupan pekerja.
Melindungi
Rakyat, Bukan Sekadar Menjaga Harga Pasar
Menghadapi situasi ini, TPM
mendorong pemerintah Thailand untuk mengambil langkah yang lebih menyeluruh
dalam melindungi masyarakat.
Pertama, pemerintah perlu memberikan
perlindungan langsung kepada kelompok yang paling terdampak, terutama pekerja
berpenghasilan rendah, pekerja informal, dan pekerja platform. Perlindungan
tidak boleh hanya berfokus pada upaya menekan harga bahan bakar, tetapi juga
harus menjamin kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kedua, perusahaan platform harus dilibatkan
dalam pembagian beban krisis. Penyesuaian tarif dan pemberian tunjangan bahan
bakar perlu dilakukan melalui mekanisme yang transparan sehingga kenaikan biaya
tidak sepenuhnya dibebankan kepada pengemudi.
Ketiga, pemerintah perlu membenahi tata kelola
industri energi. TPM menuntut pembongkaran monopoli pasar, evaluasi mekanisme
penetapan harga bahan bakar, serta peninjauan terhadap pungutan yang
memperbesar beban konsumen.
Keempat, diperlukan strategi jangka panjang
untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor. Apple
menekankan pentingnya peningkatan investasi pada energi terbarukan yang
terjangkau serta pengembangan transportasi publik.
Langkah tersebut penting untuk
mengurangi kerentanan masyarakat terhadap gejolak harga minyak dunia. Namun,
transisi energi juga harus memastikan bahwa biaya perubahan sistem energi tidak
kembali dibebankan kepada pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Upaya mengembangkan energi
terbarukan, misalnya, perlu disertai kebijakan yang menjamin keterjangkauan
energi, akses publik, dan perlindungan terhadap kelompok yang selama ini paling
rentan menghadapi kenaikan biaya hidup.
Krisis Energi
Adalah Persoalan Keadilan Sosial
Persoalan yang dihadapi
Thailand memperlihatkan bahwa krisis energi tidak dapat diselesaikan hanya
dengan menunggu harga minyak dunia kembali turun. Ketika sistem energi sangat
bergantung pada impor, sementara mekanisme pembentukan harga dan struktur industri
tidak memberikan perlindungan memadai kepada masyarakat, setiap gejolak global
berpotensi memperbesar tekanan ekonomi di dalam negeri.
Dampaknya pun tidak terbagi
secara merata. Pekerja informal, pengemudi ojek, petani, nelayan, dan rumah
tangga berpenghasilan rendah memiliki kemampuan yang lebih terbatas untuk
menghadapi kenaikan biaya energi. Bagi mereka, krisis bukan sekadar angka dalam
laporan ekonomi, melainkan persoalan tentang bagaimana mempertahankan
pendapatan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan melanjutkan kehidupan sehari-hari.
Ketergantungan terhadap minyak
impor juga menjadi persoalan yang lebih luas bagi Asia Tenggara. Negara-negara
di kawasan ini menghadapi kerentanan terhadap perubahan harga energi global,
termasuk gejolak pasokan yang berkaitan dengan konflik geopolitik dan
ketegangan di Timur Tengah.
Karena itu, perlindungan
terhadap masyarakat harus menjadi bagian utama dari kebijakan energi. Reformasi
tidak boleh berhenti pada penyesuaian pajak atau subsidi sementara, tetapi
perlu menyentuh struktur industri, sistem penetapan harga, tanggung jawab
perusahaan, dan pengembangan alternatif energi yang terjangkau.
Apple menegaskan bahwa para
pengemudi tidak memiliki kendali atas harga minyak dunia, tetapi mereka berhak
menuntut agar krisis tidak dibebankan kepada masyarakat yang paling rentan.
“Sebagai
pengemudi, kami tidak dapat mengendalikan harga minyak dunia. Namun, kami dapat
menuntut agar biaya krisis tidak dibebankan kepada rakyat yang sudah
berpenghasilan paling rendah. Inilah persoalan utamanya, ketika biaya hidup
meningkat, perlindungan dan pendapatan pekerja juga harus diperkuat,” tutup Apple.
Thailand Peoples’ Movement
Against IMF-WB dibentuk di Bangkok pada 12 Juni 2026. Gerakan ini menghimpun
petani, nelayan, pengemudi ojek, pekerja kreatif, pekerja migran, pemuda
masyarakat adat, serta advokat hukum.
Melalui seruan “JUNK IMF World Bank!” atau “Tolak IMF
dan Bank Dunia!”, gerakan ini menempatkan perjuangan atas
energi yang terjangkau sebagai bagian dari tuntutan yang lebih luas terhadap
kebijakan ekonomi yang dinilai membebani rakyat.
Di tengah kenaikan harga BBM,
tuntutan mereka menegaskan satu hal: krisis energi tidak boleh menjadi alasan
untuk memindahkan beban ekonomi kepada mereka yang paling sedikit memiliki
kemampuan untuk menanggungnya. Energi merupakan kebutuhan mendasar bagi
kehidupan masyarakat, sehingga kebijakan pengelolaannya harus mengutamakan
kepentingan publik, menjamin perlindungan pekerja, dan memastikan bahwa biaya
krisis tidak terus-menerus dibayar oleh rakyat.


.jpg)


Posting Komentar untuk "Warisan Kebijakan IMF-Bank Dunia di Thailand : Krisis Energi yang Harus Dibayar Mahal Oleh Rakyat."