Surat Sunyi untuk Soe Hok Gie
Gie, dari kejauhan aku menatapmu,
Terbaring tenang dalam dekapan dingin yang
abadi,
Tersenyum tipis di bawah mahkota edelweis
Mandalawangi.
Engkau telah sampai pada muara impianmu,
Pada pelukan alam yang kau cintai dengan
tulus,
Lewat untaian kata yang kau tulis puluhan
tahun lalu itu
Kata-kata yang dulu menyalakan api di dadaku,
Yang membuatku jatuh cinta pada kebenaran,
Hingga hari ini, di tengah riuh dunia yang
kian membusuk.
Gie, kini aku merasakan kesepian yang sama.
Kesedihan yang dulu merayap lunak di
celah-celah tulangmu,
Kini mengendap menjadi embun beracun di
mataku.
Jalan perjuangan ini teramat sunyi, Gie.
Tak ada lagi yang peduli, tak ada lagi yang
mau mendengar.
Atas nama pembangunan dan kerakusan yang
bersolek parade,
Alam dan gunung—tempat kita dulu menemukan
tempat bernapas yang sama—
Kini terkoyak, direbut, dan dimutilasi oleh
proyek-proyek perampas kehidupan.
Hutan-hutan kita dibakar tanpa belas kasihan.
Asapnya mendobrak dan meremukkan dada-dada
renta
Yang gemetar bertahan di tengah deraan siksa
bernapas,
Menyisakan paru-paru hitam legam bak arang
yang membatu.
Bukan hanya manusia, Gie.
Lihatlah orangutan, gajah, dan harimau
terbaring tanpa nyawa,
Tubuh mereka terkoyak, habitat mereka musnah
tak bersisa.
Bukankah mereka terlahir di atas tanah bumi
yang sama?
Bukankah mereka memiliki hak yang setara
untuk bernapas dan ada,
Seperti engkau dan aku?
Aku ingin melangkah menemuimu, Gie.
Merayapi lereng-lereng terjal dan punggungan
Gede-Pangrango,
Membawa duka yang tak lagi muat di dalam
dada.
Namun engkau tahu?
Beberapa waktu lalu, tempat itu terbakar
hebat.
Puncak-puncak yang kita agungkan dilalap api
yang serakah.
Apakah jelaga itu sampai ke beranda
peristirahatanmu?
Apakah asap hitam itu mengusik tidur
panjangmu di sana?
Hati ini kian hancur, Gie, ketika melihat
sesama kita runtuh.
Kemarin, seorang temanku terkena pemutusan
hubungan kerja.
Bukan karena ia malas atau enggan memeras
keringat,
Melainkan karena jam kerja yang kejam
melumpuhkan fokusnya.
Matanya yang lelah salah menghitung
kardus-kardus pesanan,
Dan tanpa ampun, ia dilempar keluar begitu
saja.
Aku masih terbayang sorot matanya yang redup
dan hampa
Saat minggu lalu kami duduk bersama makan
bakso di kios pinggir jalan.
Ada keputusasaan yang begitu pekat menari di
sana.
Dan yang paling menyakitkan, Gie...
Perjalanan ini mengulang luka sejarahmu.
Orang-orang yang dulu berjalan berdampingan
bersama kita,
Yang dulu berteriak lantang tentang keadilan
di persimpangan jalan,
Kini telah memilih arah yang berbeda.
Harta dan tahta ternyata terlalu manis untuk
ditolak;
Mereka tertidur lelap dalam buaian kenyamanan.
Aku ditinggalkan sendiri di persimpangan yang
sunyi ini.
Aku harus bagaimana, Gie?
Bagaimana aku harus bertahan?
Di bawah, kehidupan makin mencekik leher
kami.
Biaya pendidikan dan kesehatan melambung
hingga tak terjangkau.
Upah kami yang hanya naik sekali dalam
setahun—bahkan tak sampai sepuluh persen—
Langsung ludes digerus pajak yang kian buas
memburu rakyat kecil.
Di saat yang sama, aku menyaksikan teman
bermainku
Berjibaku dengan air mata mempertahankan
tanah sawahnya yang hanya secuil,
Sebab ekskavator telah bersiap menggusurnya
demi kompleks perumahan beton.
Pendidikan yang dulu kita cita-citakan kini
telah kehilangan jiwanya.
Sekolah tak lagi mengajari anak-anak untuk
berpikir kritis atau mempertanyakan ketidakadilan,
Melainkan mencetak jiwa-jiwa penurut yang
jinak.
Perut mereka dikenyangkan saat siang dengan
jatah makan,
Menternakkan kepatuhan sejak usia dini.
Sementara di rumah, bapak-bapak mereka
terbangun tiap malam dengan jantung berdebar,
Takut besok pagi surat pemecatan datang tanpa
kepastian kerja dari negara.
Gie, dari balik dinginnya udara Mandalawangi,
Dengarlah bisikan keluh kesah yang kubawa
ini.
Dunia di bawah sini sedang tidak baik-baik
saja,
Namun bayangmu di antara abadi dan edelweis
Tetap menjadi alasan bagiku untuk tidak
menyerah.
Restui aku yang masih harus berjalan di atas
duri ini, Gie,
Di jalan sunyi yang pernah kau tempuh
sendirian.
Tangerang, 23 September 2026




Posting Komentar untuk "Surat Sunyi untuk Soe Hok Gie"