Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Sunyi untuk Soe Hok Gie

Penulis : Dwi Martini (Ketua Serikat PERBUPAS GSBI Kota Tangerang)


Gie, dari kejauhan aku menatapmu,

Terbaring tenang dalam dekapan dingin yang abadi,

Tersenyum tipis di bawah mahkota edelweis Mandalawangi.

Engkau telah sampai pada muara impianmu,

Pada pelukan alam yang kau cintai dengan tulus,

 

Lewat untaian kata yang kau tulis puluhan tahun lalu itu

Kata-kata yang dulu menyalakan api di dadaku,

Yang membuatku jatuh cinta pada kebenaran,

Hingga hari ini, di tengah riuh dunia yang kian membusuk.

 

Gie, kini aku merasakan kesepian yang sama.

Kesedihan yang dulu merayap lunak di celah-celah tulangmu,

Kini mengendap menjadi embun beracun di mataku.

Jalan perjuangan ini teramat sunyi, Gie.

 

Tak ada lagi yang peduli, tak ada lagi yang mau mendengar.

Atas nama pembangunan dan kerakusan yang bersolek parade,

Alam dan gunung—tempat kita dulu menemukan tempat bernapas yang sama—

Kini terkoyak, direbut, dan dimutilasi oleh proyek-proyek perampas kehidupan.

 

Hutan-hutan kita dibakar tanpa belas kasihan.

Asapnya mendobrak dan meremukkan dada-dada renta

Yang gemetar bertahan di tengah deraan siksa bernapas,

Menyisakan paru-paru hitam legam bak arang yang membatu.

 

Bukan hanya manusia, Gie.

Lihatlah orangutan, gajah, dan harimau terbaring tanpa nyawa,

Tubuh mereka terkoyak, habitat mereka musnah tak bersisa.

Bukankah mereka terlahir di atas tanah bumi yang sama?

Bukankah mereka memiliki hak yang setara untuk bernapas dan ada,

Seperti engkau dan aku?

 

Aku ingin melangkah menemuimu, Gie.

Merayapi lereng-lereng terjal dan punggungan Gede-Pangrango,

Membawa duka yang tak lagi muat di dalam dada.

Namun engkau tahu?

Beberapa waktu lalu, tempat itu terbakar hebat.

Puncak-puncak yang kita agungkan dilalap api yang serakah.

Apakah jelaga itu sampai ke beranda peristirahatanmu?

Apakah asap hitam itu mengusik tidur panjangmu di sana?

 

Hati ini kian hancur, Gie, ketika melihat sesama kita runtuh.

Kemarin, seorang temanku terkena pemutusan hubungan kerja.

Bukan karena ia malas atau enggan memeras keringat,

Melainkan karena jam kerja yang kejam melumpuhkan fokusnya.

Matanya yang lelah salah menghitung kardus-kardus pesanan,

Dan tanpa ampun, ia dilempar keluar begitu saja.

Aku masih terbayang sorot matanya yang redup dan hampa

Saat minggu lalu kami duduk bersama makan bakso di kios pinggir jalan.

Ada keputusasaan yang begitu pekat menari di sana.

 

Dan yang paling menyakitkan, Gie...

Perjalanan ini mengulang luka sejarahmu.

Orang-orang yang dulu berjalan berdampingan bersama kita,

Yang dulu berteriak lantang tentang keadilan di persimpangan jalan,

Kini telah memilih arah yang berbeda.

 

Harta dan tahta ternyata terlalu manis untuk ditolak;

Mereka tertidur lelap dalam buaian kenyamanan.

Aku ditinggalkan sendiri di persimpangan yang sunyi ini.

Aku harus bagaimana, Gie?

Bagaimana aku harus bertahan?

 


Di bawah, kehidupan makin mencekik leher kami.

Biaya pendidikan dan kesehatan melambung hingga tak terjangkau.

 

Upah kami yang hanya naik sekali dalam setahun—bahkan tak sampai sepuluh persen—

Langsung ludes digerus pajak yang kian buas memburu rakyat kecil.

 

Di saat yang sama, aku menyaksikan teman bermainku

Berjibaku dengan air mata mempertahankan tanah sawahnya yang hanya secuil,

Sebab ekskavator telah bersiap menggusurnya demi kompleks perumahan beton.

 

Pendidikan yang dulu kita cita-citakan kini telah kehilangan jiwanya.

Sekolah tak lagi mengajari anak-anak untuk berpikir kritis atau mempertanyakan ketidakadilan,

Melainkan mencetak jiwa-jiwa penurut yang jinak.

Perut mereka dikenyangkan saat siang dengan jatah makan,

Menternakkan kepatuhan sejak usia dini.

 

Sementara di rumah, bapak-bapak mereka terbangun tiap malam dengan jantung berdebar,

Takut besok pagi surat pemecatan datang tanpa kepastian kerja dari negara.

 

Gie, dari balik dinginnya udara Mandalawangi,

Dengarlah bisikan keluh kesah yang kubawa ini.

Dunia di bawah sini sedang tidak baik-baik saja,

Namun bayangmu di antara abadi dan edelweis

Tetap menjadi alasan bagiku untuk tidak menyerah.

Restui aku yang masih harus berjalan di atas duri ini, Gie,

Di jalan sunyi yang pernah kau tempuh sendirian.

 

Tangerang, 23 September 2026

Posting Komentar untuk "Surat Sunyi untuk Soe Hok Gie"