98 Tahun Sumpah Pemuda, SPM Progresif Ternate Serukan Perjuangan Merebut Hak Pendidikan, Pekerjaan, dan Demokrasi
Ternate, 28 Oktober 2026 — Memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda, Sentral Perjuangan
Mahasiswa Progresif (SPMP) Ternate menyerukan perjuangan untuk merebut hak atas
pendidikan, pekerjaan, dan demokrasi rakyat. Mereka menilai berbagai persoalan
yang dihadapi rakyat saat ini, mulai dari mahalnya biaya pendidikan,
menyempitnya lapangan kerja, perampasan tanah, hingga meluasnya keterlibatan
militer dalam kehidupan sipil, menunjukkan bahwa kepentingan rakyat masih
tersisih oleh kepentingan modal.
Dalam pernyataan sikapnya, SPMP
mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan puncak
kebangkitan kesadaran nasional. Di tengah penindasan kolonial, kaum muda
membangun organisasi dan menyatukan tekad melalui ikrar satu tanah air, satu
bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
Namun, setelah 98 tahun berlalu,
SPMP menilai semangat pembebasan tersebut masih menghadapi tantangan besar.
Menurut mereka, penindasan terhadap rakyat tidak lagi berlangsung dalam bentuk
kolonialisme klasik, tetapi hadir melalui kebijakan ekonomi dan politik yang
dinilai lebih mengutamakan kepentingan modal asing serta monopoli tanah.
SPMP juga mengkritik dua tahun
pemerintahan Prabowo–Gibran yang mereka nilai semakin menjauh dari kepentingan
rakyat. Mereka menyoroti kecenderungan perluasan peran militer ke ranah sipil
serta tindakan represif yang dinilai mengancam kebebasan rakyat untuk
berekspresi, berkumpul, berserikat, dan menyampaikan pendapat.
Pendidikan
Mahal, Pekerjaan Layak Semakin Sulit
SPMP menilai kebijakan pendidikan
dan ekonomi saat ini semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan akumulasi
modal. Akibatnya, akses terhadap pendidikan yang layak semakin terbebani biaya,
sementara kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak semakin terbatas. Di sisi
lain, kebijakan upah murah terus menekan kehidupan kelas buruh.
Situasi tersebut, menurut SPMP,
memperlihatkan ketimpangan antara kepentingan rakyat dan arah pembangunan yang
dijalankan pemerintah. Investasi dan ekspansi industri terus didorong, termasuk
melalui pertambangan dan hilirisasi, tetapi manfaatnya dinilai belum menjawab
persoalan mendasar masyarakat.
Di berbagai wilayah, ekspansi
perkebunan skala besar dan proyek pembangunan juga dikaitkan dengan perampasan
tanah, kriminalisasi masyarakat adat, serta kerusakan lingkungan. Kebakaran
hutan dan lahan (karhutla), gagal panen, dan melemahnya daya beli masyarakat
menjadi persoalan yang memperberat kehidupan rakyat.
Bagi SPMP, berbagai persoalan
tersebut tidak dapat dipisahkan dari model pembangunan yang mengutamakan
kepentingan investasi tanpa menempatkan keselamatan, kesejahteraan, dan hak-hak
rakyat sebagai prioritas utama.
Tolak
Perampasan Tanah dan Militerisasi Kehidupan Sipil
Dalam pernyataannya, SPMP menegaskan
bahwa penyelesaian krisis yang dihadapi rakyat tidak cukup dilakukan melalui
pergantian program atau penambahan anggaran semata. Mereka menuntut perubahan
arah kebijakan yang berpihak kepada rakyat, termasuk penghentian perampasan
tanah atas nama proyek strategis nasional (PSN), hilirisasi, transisi energi,
dan ketahanan pangan.
SPMP juga mendesak pemerintah
menghentikan perluasan peran militer dalam kehidupan sipil. Mereka menolak
pembangunan batalion infanteri teritorial pembangunan (Yonif TP) di berbagai
wilayah Indonesia dan menuntut penarikan militer dari ranah sipil.
Selain itu, mereka menolak konsep
reforma agraria yang dinilai menyimpang dari tujuan pemerataan penguasaan
tanah. SPMPT menyerukan pelaksanaan reforma agraria sejati sebagai dasar untuk
mengakhiri monopoli tanah, melindungi hak masyarakat, dan membangun kemandirian
ekonomi nasional.
Sembilan
Tuntutan SPMP Ternate
Berangkat dari situasi tersebut,
SPMP menyampaikan sembilan tuntutan dalam momentum peringatan 98 tahun Sumpah
Pemuda:
- Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis, dan
mengabdi kepada rakyat, agar
pendidikan tidak menjadi beban ekonomi dan dapat diakses oleh seluruh
lapisan masyarakat.
- Tuntaskan krisis BBM dan energi rakyat, serta pastikan ketersediaan energi yang terjangkau
bagi masyarakat.
- Tetapkan karhutla di Kalimantan, Sumatera, dan Papua,
serta bencana di Flores, Aceh, dan wilayah lainnya sebagai bencana
nasional. Pulihkan wilayah terdampak,
selamatkan korban, dan hentikan ekspansi monopoli perkebunan skala besar
yang dinilai menjadi salah satu akar bencana.
- Evaluasi total PSN dan seluruh program prioritas yang
rakus tanah. Tarik militer dari ranah sipil
serta cabut dan tolak pembangunan Yonif TP di seluruh wilayah Indonesia.
- Hentikan perampasan tanah rakyat atas nama hilirisasi,
transisi energi, dan ketahanan pangan.
Tolak reforma agraria palsu dan wujudkan reforma agraria sejati.
- Lindungi hak-hak ketenagakerjaan kelas buruh sesuai
putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Hentikan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan politik upah murah.
- Hapuskan kabinet yang dinilai terlalu gemuk dan
hentikan pemborosan anggaran
melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih
(KDMP), serta program prioritas lainnya yang dinilai rawan korupsi.
- Putus ketergantungan pada modal asing dan lembaga
keuangan imperialis. Bangun
kemandirian ekonomi melalui industrialisasi nasional yang berlandaskan
reforma agraria sejati.
- Pastikan bantuan sosial, termasuk Kartu Indonesia
Pintar (KIP) dan bantuan berbasis desil, disalurkan secara tepat sasaran. Hentikan korupsi dalam penyelenggaraan jaminan sosial
rakyat.
Membangun
Kembali Semangat Perlawanan Pemuda
Bagi SPMP, peringatan Sumpah Pemuda
tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan atau pengulangan sejarah.
Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa persatuan pemuda memiliki arti
ketika diarahkan untuk melawan penindasan dan memperjuangkan kepentingan
rakyat.
Semangat yang diwariskan oleh
generasi 1928, menurut mereka, perlu diwujudkan melalui perjuangan bersama
untuk memperoleh pendidikan yang layak, pekerjaan yang manusiawi, tanah untuk rakyat,
lingkungan yang aman, serta ruang demokrasi yang bebas dari intimidasi dan
represi.
SPMP menyerukan agar pemuda dan
mahasiswa memperkuat organisasi serta membangun solidaritas dengan kaum buruh,
petani, masyarakat adat, dan kelompok rakyat lainnya. Perjuangan tersebut
dinilai penting untuk mendorong perubahan mendasar dalam sistem ekonomi dan
politik yang selama ini dianggap belum berpihak kepada mayoritas rakyat.
“Rebut hak pendidikan, pekerjaan, dan demokrasi rakyat!” menjadi seruan utama SPMPT dalam peringatan 98 tahun Sumpah
Pemuda, sekaligus penegasan bahwa semangat persatuan harus terus dihidupkan
melalui perjuangan nyata untuk pembebasan rakyat.
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Pemuda Mahasiswa!




Posting Komentar untuk "98 Tahun Sumpah Pemuda, SPM Progresif Ternate Serukan Perjuangan Merebut Hak Pendidikan, Pekerjaan, dan Demokrasi"